<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253</id><updated>2011-09-13T13:56:38.842-07:00</updated><category term='Kaji Tokoh Hadits'/><category term='Sejarah'/><category term='Artikel Lepas'/><category term='Kajian Ilmu al-Qur`an'/><category term='Ensiklopedia'/><category term='Kaji Tokoh Tafsir'/><category term='Alam Buku'/><category term='Kajian Tematik'/><title type='text'>Sabdapena:--&gt;&gt;</title><subtitle type='html'>Sebuah Ruang Kesadaran</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-7115123731750021548</id><published>2009-04-21T13:03:00.000-07:00</published><updated>2009-04-21T13:16:58.863-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Ilmu al-Qur`an'/><title type='text'>Kajian Ilmu al-Qur`an (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se4n9f7orrI/AAAAAAAAAmY/dMt2c5pbY6E/s1600-h/alfatihah3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se4n9f7orrI/AAAAAAAAAmY/dMt2c5pbY6E/s200/alfatihah3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327239346723008178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HISTORIOGRAFI ULUMUL QUR`AN;&lt;br /&gt;Sebuah Pengantar Sejarah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Dan Kami turunkan Kitab (al-Qur`an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, &lt;br /&gt;sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira &lt;br /&gt;bagi orang-orang yang berserah (muslim).” (QS. An-Nahl [16]: 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`an adalah ruh semesta; olehnya segala yang ada lebih bermakna, karenanya segala yang gelap menjadi terang dan kepadanya segala pengetahuan bermuara. Ia ibarat sebuah pondasi kokoh, yang di atasnya berdiri bangunan menjulang berkilau cahaya, sehingga biasnya mampu menerangi setiap sudut cakrawala. Ia juga laksana tiang-tiang, yang menyangga berbagai apa yang membutuhkan penyangga. Iapun seperti bumi, yang darinya tumbuh berbagai pepohonan, bunga serta rerumputan yang menghias wajah dunia. Al-Qur`an adalah the way of life, sebuah kitab pedoman dalam menjalankan amanah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana termaktub dalam penggalan ayat ke-89 surat an-Nahl di atas, sepintas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, al-Qur`an diturunkan sebagai petunjuk atas segala sesuatu. Namun, apakah “segala sesuatu” yang dimaksud itu benar-benar meliputi segala aspek kehidupan manusia? Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Qur’an memang tidak  menjelaskan secara rinci seluruh urusan yang terkait dengan kehidupan manusia. Namun, di dalam al-Qur`an setidaknya telah mengandung pokok-pokok atau dasar-dasar dari segala jenis ilmu (baik secara tegas ataupun sebatas isyarat) yang berguna bagi kemaslahatan manusia secara khusus, serta keseimbangan tata kosmos secara umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud berkata: “telah diturunkan di dalam al-Qur`an segala jenis ilmu, dan segala sesuatu telah dijelaskan kepada kita di dalamnya”.    &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Senada dengan diktum di atas, Imam Syafi’i juga pernah berkata: “Tanyailah aku (tentang hal apapun) sesuka kalian, maka aku akan memberi jawabannya dari dalam al-Qur`an!”.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pada makalah kali ini, penulis tidak hendak mengkaji tentang percabangan ilmu yang bersumber dari al-Qur’an, melainkan tentang ilmu al-Qur`an itu sendiri. Dengan kata lain, penulis hendak memaparkan ilmu-ilmu yang terkait dengan al-Qur`an, dalam rangka untuk mendekati al-Qur`an, guna mencapai pemahaman sempurna atas kandungan wahyu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pada beberapa ruas selanjutnya, penulis akan menjelaskan tentang definisi dari terma “Ulûm al-Qur`ân”, tema/obyek/pokok kajian dalam ilmu al-Qur`an, manfaat dan urgensitasnya, serta sejarah perkembangannya sejak zaman kenabian hingga masa sekarang. Maka selanjutnya, penulis senantiasa memohon petunjuk serta taufik dari Allah SWT, agar proses penulisan makalah ini menjadi mudah dan bermanfaat bagi siapa saja. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Definisi Ulumul Qur`an &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Terma Ulumul Qur`an, dalam bahasa Arab merupakan susunan idhâfi (gabungan dua kata). Yaitu tersusun dari kata ulûm dan al-Qur`an. Kata “ulûm” adalah bentuk jama’ (plural) dari kata “ilmu” (mashdar dari ‘alima) yang berarti pengetahuan atau pemahaman. Para ulama pun berbeda pendapat tentang makna etimologis dari kata “ilmu”. Para filosof memaknai ilmu sebagai gambaran atas sesuatu yang terdapat dalam ruang akal. Sedangkan para teolog mengartikan ilmu sebagai suatu sifat yang dengan sifat itu seseorang mampu dengan jelas mengatakan tentang suatu perkara atau urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kata “al-Qur`an” adalah bentuk isim mashdar dari “qara`a”, berposisi sama dengan kata “qirâ`ah” yang berarti bacaan. Menurut sebagian ulama, meskipun bentuk kata “Qur’an” adalah mashdar (bacaan), namun ia bermakna seperti maf`ûl (yang dibaca). Pada tahap selanjutnya, kata al-Qur’an dinisbatkan kepada satu kitab suci (kalam Allah yang mu’jiz) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga secara tersusun (idhâfi), Ulumul Qur’an, dapat kita pahami adanya berbagai ilmu pengetahuan yang terkait-kelindan dengan al-Qur`an. Dengan kata lain, ada berbagai ilmu yang digunakan oleh para ulama dalam rangka memahami al-Qur`an. Imam Suyuthi mendefinisikan Ulumul Qur`an sebagai sebuah ilmu yang membahas tentang keadaan al-Qur`an dari segi proses turun, sanad, etika serta makna-maknanya, yang terkait dengan hukum-hukum dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dengan ungkapan lain kita dapat mengartikan Ulumul Qur`an sebagai: kumpulan pembahasan-pembahasan yang terkait dengan al-Qur`an dalam segi proses turunnya, urutannya, proses pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, tafsirnya, i’jaznya, nasikh-mansukhnya, pembelaan terhadap berbagai syubhat (tuduhan-tuduhan seputar al-Qur`an) dan pembahasan lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Obyek Kajian Ulumul Qur`an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita merumuskan tentang maudlu’ atau obyek kajian Ulumul Qur`an, perlu kiranya kita membedakan antara definisi Ulumul Qur`an sebagai sebuah susunan idhâfi dan Ulumul Qur`an sebagai sebuah nama dari disiplin ilmu yang komprehensif dan sistematis. Jika yang kita maksud adalah Ulumul Qur`an yang didefinisikan secara idhâfi (sebagaimana dijelaskan di atas), maka obyek kajiannya adalah al-Qur`an yang ditinjau dari satu bentuk parsial dari ilmu-ilmu tersebut. Misalnya al-Qur`an ditinjau dari sisi asbabun nuzul saja, al-Qur`an dari segi ilmu i’rab-nya saja dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, jika yang kita maksud adalah Ulumul Qur`an yang berbentuk sebuah disiplin ilmu komprehensif dan sistematis (ulûm al-Qur`an bi ma’na al-mudawwan), maka obyek kajiannya adalah: al-Qur’an yang ditinjau dari seluruh aspek keilmuan yang terkait dengannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, obyek pembahasan Ulumul Qur`an ditinjau dari makna idhâfi/laqabi lebih sempit dan terbatas, oleh sebab hanya meninjau al-Qur`an dengan satu pisau analisa saja, yaitu dengan satu disiplin tertentu. Sementara Ulumul Qur`an sebagai kitab al-mudawwan lebih luas dan menyeluruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan sejauh mana obyek kajian Ulumul Qur`an. Namun sebagian besar mengatakan, bahwa Ulumul Qur`an meliputi berbagai macam ilmu-ilmu keagamaan (al-ulûm al-dîniyyah) dan ilmu-ilmu bahasa Arab (al-ulûm al-Arabiyyah). Sehingga jika kita petakan, maka tema kajian Ulumul Qur`an antara lain meliputi hal-hal berikut:&lt;br /&gt;1. Proses dan sebab turunnya al-Qur`an (Nuzûl al-Qur`an wa Sababuhu).&lt;br /&gt;2. Ilmu qirâ`at (cara pembacaan al-Qur`an).&lt;br /&gt;3. Pembahasan sanad. Yaitu berbagai rangkaian riwayat hadits yang terkait dengan al-Qur`an.&lt;br /&gt;4. Persoalan kata-kata al-Qur`an. Antara lain membahas berbagai kata yang dianggap ambigu dalam al-Qur`an, amm, khash, muthlaq, muqayyad dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;5. Tentang penggalian makna al-Qur`an yang terkait dengan hukum perkara tertentu.&lt;br /&gt;6. Membahas karakteristik setiap ayat dan mengklasifikasikannya sesuai tempat turunyya ayat (Makki, Madani, Safari, Hadlari, dsb.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi pembahasan yang terangkup dalam disiplin Ulumul Qur`an. Untuk lebih detailnya, kita bisa langsung merujuk ke berbagai kitab Ulumul Qur`an yang tersebar di berbagai perpustakaan dan toko buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Urgensitas Ulumul Qur`an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Setelah melihat beberapa pemaparan di atas, mulai dari definisi hingga obyek serta ruang lingkup kajiannya, kita akan dengan mudah menemukan urgensitas dan manfaat dari mempelajari Ulumul Qur`an. Antara lain adalah:&lt;br /&gt;- Mampu menguasai berbagai ilmu pendukung dalam rangka memahami makna yang terkandung dalam al-Qur`an.&lt;br /&gt;- Selain itu, dengan mempelajari Ulumul Qur`an, secara otomatis kita telah membekali diri dengan persenjataan ilmu pengetahuan yang lengkap, dalam rangka membela al-Qur`an dari berbagai tuduhan dan fitnah yang muncul dari pihak lain.&lt;br /&gt;- Tentu saja, dengan mengetahui berbagai perangkat dan sarana yang ada, seorang penafsir (mufassir) akan lebih mudah dalam mengartikan al-Qur`an dan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, dalam tradisi ulama’ klasik mereka mengatakan bahwa, urgensitas sebuah ilmu pengetahuan dinilai dari tiga hal pokok. Pertama, dilihat dari sisi obyek kajiannya. Kedua, dinilai dari segi tujuannya. Dan ketiga, dipandang dari sisi sejauh mana kebutuhan manusia akan ilmu tersebut. Bertolak dari ketiga parameter tersebut, kita dapat mengatakan bahwa Ulumul Qur`an merupakan ilmu yang mulia dan sangat penting, karena meliputi tiga aspek penilaian tersebut sekaligus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Zarkasyi (w. 794 H) maupun Imam Suyuthi (w. 911 H), keduanya mengungkapkan keprihatinan mereka akan Ulumul Qur`an. Mengingat, menurut mereka, para pendahulu mereka belum ada seorangpun yang menyusun sebuah kitab Ulumul Qur`an secara lengkap, sebagaimana mereka telah menyusun Ulumul Hadits.  Hal ini mereka ungkapkan dalam pendahuluan di kitab mereka masing-masing, yaitu “al-Burhân dan al-Itqân”.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah Perkembangan Ulumul Qur`an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;a. Fase Turunnya al-Qur`an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masa ini dimulai dari masa Nabi Muhammad SAW dan berjalan hingga masa khalifah Umar bin Khattab ra. Pada periode ini, para sahabat belumlah perlu akan adanya sebuah ilmu tertentu dalam rangka untuk memahami al-Qur`an. Sebab, secara alamiah mereka telah mampu memahami kandungan al-Qur`an secara baik karena mereka merupakan orang Arab asli yang masih memiliki dzauq (cita rasa bahasa) dan pemahaman yang mendalam terhadap bahasa Arab, bahasa al-Qur`an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, pada waktu-waktu tertentu mereka juga menemukan beberapa kesulitas dalam memahami sebuah ayat. Namun mengingat Nabi Muhamad masih hidup, para sahabat bisa langsung menanyakan permasalahan tersebut kepada Nabi. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi di antara mereka dalam memahami kata “dzulm” dalam surat al-An’am ayat 82. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ini Ulumul Qur`an memang belum terbentuk sebagai suatu teori keilmuan tertentu sebagaimana yang ada sekarang. Namun secara praktek, para sahabat sebenarnya telah secara otomatis menerapkannya. Cikal bakal Ulumul Qur`an ini mereka dapatkan dari bergabai penjelasan Nabi, juga berbagai riwayat tentang asbâbun nuzul yang mereka dapatkan melalui jalur transmisi lisan ke lisan.  &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;b. Fase Perintisan Ulumul Qur`an &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hingga sampailah pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, dimana pada fase ini terjadi sebuah peristiwa besar dalam sejarah al-Qur`an, yaitu penulisan dan pembukuan al-Qur`an dalam sebuah mushaf khusus. Pada masa ini, beliau membentuk sebuah tim yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit dan beranggotakan beberapa sahabat lain guna menyatukan ragam bacaan al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, beliau memerintahkan untuk membakar berbagai catatan al-Qur`an pribadi yang dimiliki oleh umat Islam waktu itu, sebagai sebuah antisipasi agar tak terjadi perselisihan di antara mereka, akibat bacaan al-Qur`an yang berbeda-beda. Dengan demikian, muncullah sebuah ilmu baru yang dikenal saat itu dengan sebutan “Ilmu Rasm Qur`ân” atau “Ilmu Rasm Utsmâni”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlanjut pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib, sebagaimana dicatat sejarah, bahwa beliau memerintahkan kepada Abul Aswad al-Du`ali untuk menyusun sebuah kaidah tertentu dalam rangka menjaga bahasa Arab dari kerusakan. Berangkat dari situ terciptalah sebuah ilmu baru yang dikenal dengan “Ilmu Nahwu” atau “Ilmu I’rab al-Qur`an”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada fase ini, kita dapat mengatakan bahwa benih dari kemunculan Ulumul Qur`an telah mulai tumbuh. Adapun para punggawa yang menggawangi tranformasi keilmuan al-Qur`an pada masa ini antara lain adalah:&lt;br /&gt;I. Dari kalangan Sahabat: Empat Khalifah pertama, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.&lt;br /&gt;II. Dari kalangan Tabi’in: Mujahid, Atha’ bin Yasar, Ikrimah, Qatadah, Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair dan Zaid bin Aslam.&lt;br /&gt;III. Dari kalangan Tabi’ Tabi’in: Malik bin Anas, yaitu murid dari Zaid bin Aslam.     &lt;br /&gt;Tiga generasi inilah yang secara tidak langsung telah merintis kemunculan Ulumul Qur`an. Menabur benih-benih persemaiannya. Oleh sebab itu, tak heran jika pada masa selanjutnya akan bermunculan berbagai karya yang terangkup dalam disiplin Ulumul Qur`an. Hadir pada abad kedua, ketiga dan seterusnya, para ulama yang secara aktif dan elaboratif menyemai pertumbuhan Ulumul Qur`an. Untuk lebih detail akan dijelaskan pada poin (c) berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;c. Fase Penulisan dan Pembukuan Ulumul Qur`an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memasuki pertengahan abad ke-2 Hijriyah, muncul sebuah kitab karangan Syu’bah bin al-Hajjaj (w. 160 H), seorang ahli hadits dari kota Basrah sekaligus amirul mukminin dalam bidang hadits dengan kitab “Mushannaf”nya yang merupakan kumpulan-kumpulan hadits penjelas al-Qur’an. Pada masa ini juga tumbuh seorang ahli tafsir yang menjadi guru ahli Hijaz, Ali al-Madini (w. 198 H). Selain beliau berdua ada juga Waki` bin al-Jarrah, yang ketiganya ini merupakan para ulama ahli hadits sekaligus pakar tafsir pada masanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di abad ke-3 hadir Abu ‘Ubaid al-Qâsim bin Sallâm yang menulis tentang “Nasikh dan Mansûkh”. Dalam bidang “Qirâ`ât dan Fadlâ`il al-Qur`ân” ada Muhammad bin Ayyub al-Dharîs (w. 294 H) yang bermukim di Makkah. Sementara di Madinah ada Muhammad bin Khalaf al-Marzubân (w. 309 H) dengan kitabnya “al-Hâwî fî Ulûm al-Qur`ân”. Lalu disusul oleh Muhammad bin Jarir al-Thabari (w. 310 H) dengan kitab “Jami’ul Bayan fî Ta’wîli Âyyi al-Qur`ân”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Pada abad ke-4, Abu Bakar Muhammad bin Qasim al-Anbari (w. 328 H) dengan karyanya “Ajâ`ib Ulûm al-Qur`ân”. Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) tampil dengan buah karyanya “al-Muhtazin fî Ulûm al-Qur`ân”. Abu Bakar al-Sijistani (w. 330 H) menulis buku dalam tajuk “Gharîb al-Qur`ân”. Al-Baqilani (w. 403 H) mempunyai sebuah karya berjudul “I’jâz al-Qur`ân”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranjak menuju abad ke-5, Ibrahim bin Sa’id al-Hûfi (w. 430 H) menulis sebuah kitab berjudul “al-Burhân fî Ulûm al-Qur`ân” dan juga “I’râb al-Qur`ân”. Sementara itu, dalam bidang ilmu qira’at, Abu Amr al-Dâni (w. 442 H) menulis sebuah kitab bertajuk “al-Taisîr fi al-Qirâ`ât al-Sab’”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di penghujung abad ke-6, Abul Qasim Abdurrahman yang lebih dikenal dengan nama al-Suhaili (w. 581 H) menulis sebuah kitab dalam tema “Mubhamât al-Qur`ân”. Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) menulis dua kitab sekaligus dalam bidang Ulumul Qur’an: “Funûn al-Afnân fî Ulûm al-Qur`ân” dan “al-Mujtabâ fî Ulûm tata’allaqu bi al-Qur`ân”.&lt;br /&gt;Memasuki abad ke-7, ‘Alamuddin al-Sahawi (w. 641 H) mengarang sebuah buku berjudul “Jamâl al-Qurrâ`”. Sementara itu, di lain pihak, Abu Syâmah (w. 665 H) menulis kitab “al-Mursyid al-Wajîz fîma yata’allaqu bi al-Qur`ân al-Azîz”. Menurut imam Suyuthi, kedua kitab ini merupakan kitab sederhana yang disusun dalam ranah kajian Ulumul Qur`an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad ke-8 Hijriyah merupakan fase awal penyusunan disiplin Ulumul Qur`an dalam sebuah kitab yang komprehensif dan sistematis. Yaitu digawangi oleh imam Badruddin al-Zarkasyi (w. 794 H) melalui magnum opus beliau, “al-Burhan fî Ulûm al-Qur`ân”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Memuncak ke panggung singgasananya, Ulumul Qur`an sebagai sebuah disiplin keilmuan semakin eksis dan mapan di abad ke-9. Muhammad bin Sulaiman al-Kâfiji (w. 873 H), menulis sebuah kitab dalam bidang Ulumul Qur`an yang judulnya tak sampai kepada kita. Namun menurut imam Suyuthi, sebagaimana yang beliau catumkan dalam mukaddimah kitab “al-Itqân”, bahwa al-Kâfiji pernah mengatakan: “Aku telah menulis sebuah kitab dalam bidang ilmu Tafsir yang belum pernah ditulis (oleh orang lain) sebelumnya”.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih pada abad 9 ini, Jalaluddin al-Bulqîni, guru imam Suyuthi juga telah menulis sebuah kitab berjudul “Mawâqi’ al-Ulûm min mawâqi’ al-Nujûm” yang mencakup 50 tema pembahasan dalam bidang Ulumul Qur`an. Disusul oleh imam Suyuthi (w. 911 H), beliau mengarang dua kitab dalam bidang Ulumul Qur`an, yaitu “al-Tahbîr fî Ulûm al-Tafsîr” dan “al-Itqân fi Ulûm al-Qur`ân”. Adapun kitab pertama imam Suyuthi tiada lain merupakan penjabaran dari kitab al-Bulqîni, yang mana beliau sempurnakan lagi pembahasan-pembahasannya hingga mencapai 102 jenis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kitab “al-Itqân”, menurut beberapa ulama modern dinilai banyak mengutip dari kitab “al-Burhân” karya imam Zarkasyi. Meskipun menurut penuturan imam Suyuthi beliau lebih menjabarkan dan melengkapi lagi pembahasan-pembahasan dalam “al-Itqân”, namun beberapa ulama menilai justru imam Suyuthi lebih meringkas beberapa penjabaran yang ada di “al-Burhân”. Terlepas dari pendapat para ulama di atas, kedua kitab tersebut (“al-Burhân” dan “al-Itqân”) merupakan dua rujukan primer dalam bidang Ulumul Qur’an. Secara jelas dapat kita lihat, bahwa ulama-ulama setelah masa imam Suyuthi, ketika hendak menulis kitab di bidang Ulumul Qur`an pasti meletakkan “al-Burhân” dan “al-Itqân” di urutan pertama daftar buku-buku rujukan. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kajian Ulumul Qur`an tak berhenti begitu saja pada masa imam Suyuthi. Namun ia terus berkembang dan menjadi salah satu disiplin ilmu yang subur, karena selalu saja menjadi wacara hangat di setiap masa. Adab-abad setelah itu kita dapat menemukan lebih banyak lagi buku-buku yang berbicara tentang Ulumul Qur`an. Sebut saja buku berjudul “al-Mabâhits fî Ulûm al-Qurân”. Satu judul ini digunakan oleh beberapa pengarang sekaligus dalam karya mereka. Syeikh Mannâ’ al-Qattân misalnya. Di samping itu juga ada Dr. Subhi al-Shalih yang menggunakan judul sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Abdullah Darraz menulis kitab berjudul “Naba’ul Adzîm”. Ada juga “al-Tibyân fî Ulûm al-Qur`ân” karya Syeikh Thâhir al-Jazâ`iri. Syeikh Muhammad Ali Salâmah menulis kitab berjudul “Manhaj al-Furqân fî Ulûm al-Qur`ân”. Dan masih banyak lagi kitab-kitab dalam ranah Ulumul Qur`an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, penulis hendak mengutip pernyataan imam Zarkasyi dalam mukaddimah kitab al-Burhân-nya: “Dan ketahuilah, bahwa tidaklah satu jenis dari berbagai jenis pembahasan ini (yang ada dalam al-Burhân), jika seandainya seseorang ingin meneliti dan mengkajinya, maka akan habislah umurnya, sementara ia belum menyelesaikan (keseluruhan)nya. Maka kami ringkaslah setiap pembahasan sesuai aslinya, dan kami berikan lambang serta rumus-rumus dalam berbagai babnya. Karena sesungguhnya proses berproduksi dan berkarya membutuhkan waktu yang sangat panjang, sementara umur manusia sangat pendek...!” . Wallahu a’lam.[]     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-7115123731750021548?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/7115123731750021548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=7115123731750021548' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/7115123731750021548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/7115123731750021548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2009/04/kajian-ilmu-al-quran-1.html' title='Kajian Ilmu al-Qur`an (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se4n9f7orrI/AAAAAAAAAmY/dMt2c5pbY6E/s72-c/alfatihah3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-3693816609368925231</id><published>2008-11-30T04:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T05:14:44.040-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Tematik'/><title type='text'>Kajian Tematik (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/STKQmAJuaXI/AAAAAAAAAkM/V8Xtdx8DGXw/s1600-h/lorong.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/STKQmAJuaXI/AAAAAAAAAkM/V8Xtdx8DGXw/s200/lorong.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274437096154491250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menyibak Lorong Gelap Filsafat*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Moh. Luthfi al-Anshori &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian (kebanyakan?) orang, membincang filsafat adalah hal yang rumit nan membosankan. Jangankan untuk mempelajari, bahkan hanya mendengar kata “filsafat” diucapkan saja muak. Dan, pada tahap selanjutnya mereka dihinggapi phobia dan skeptisisme yang berlebihan, hingga semena-mena mengatakan bahwa filsafat itu haram, kotor lagi menyesatkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bisa jadi persepsi semacam ini muncul karena menurut mereka, filsafat adalah disiplin keilmuan yang membingungkan, sesuatu yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;complicated&lt;/span&gt;, relatif, tak bermanfaat, hanya membuang waktu dan pikiran untuk mempelajarinya. Bertolak dari pengalaman pribadi penulis, ternyata memang masih banyak sekali para akademisi yang enggan bahkan sangat sulit untuk mau memahami dan mempelajari filsafat. Sebuah fakta empiris yang ironis. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perhelatan Panjang Filsafat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perhelatan sengit nan panjang tak berkesudahan. Begitulah filsafat! Ia bagaikan lorong gelap yang pengap. Tak banyak orang yang bisa survive ketika telah masuk ke dalamnya. Ada yang gila, ada yang murtâd, namun ada pula yang justru bercahaya. Melalui olah pikir yang cemerlang, mereka mampu menerobos lorong itu, menyibak gelap, melalui rintangan, berjibaku dengan kerumitan-kerumitan teori yang dibuat oleh manusia sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh nyata keberadaan orang-orang yang survive itu dapat kita temukan dalam berbagai literatur filsafat. Sebut saja Socrates, salah seorang yang diduga pencetus awal terma filsafat (meskipun masih ada perselisihan pendapat tentang hal itu). Ia dikenal sebagai sosok yang tawâdhu’. Karena sumbangsih pikirannya yang cukup banyak, ia menjadi dikenal oleh masyarakat kala itu. Namun ia tidak sombong dengan mengatakan dirinya adalah seorang filosof (baca: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hakîm&lt;/span&gt;). Sebab menurutnya yang memiliki “hikmah” hanyalah Tuhan. Maka ia lebih suka menyebut dirinya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“muhib li al-hikmah”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berangkat dari sikap Socrates di atas, muncul sebuah pertanyaan retoris dari penulis: jika ternyata berfilsafat atau berpikir secara filosofis dapat menjadikan seseorang lebih arif dan tawâdhu’, lalu kenapa banyak yang tersesat? Atau dalam waktu yang sama banyak yang mengklaimnya sebagai jalan sesat? Silahkan Anda fikirkan masing-masing jawabannya!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, mari kita melihat sample lain yang bisa kita jadikan figur filosof “cemerlang”. Adalah Ibnu Sina, yang di tangannya filsafat paripatetik (yang konon telah digagas al-Farabi) memasuki masa keemasan. Bertolak dari sinilah filsafat menjadi salah satu faktor penentu budaya serta ilmu-ilmu lainnya. Melihat aksi dan sepak terjang Ibnu Sina dalam bidang filsafat maupun disiplin kelimuan lainnya, para Ulama Islam kala itu menjadi semakin tertantang. Sayangnya, mereka cenderung menganggap argumentasi-argumentasi falsafi bak pondasi bangunan yang rapuh. Mereka berpegang teguh bahwa jalan terbaik dan satu-satunya untuk mencapai kebenaran hakiki adalah melalui proses pembersihan hati (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tazkiyyah al-nafs&lt;/span&gt;) dan ibadah. Filsafat, menurut mereka, hanyalah akan menjauhkan manusia dari jalan yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hal ini kiranya perlu dicatat, bahwa oleh sebagian Ulama, seperti halnya al-Ghozali dan Fakhruddin al-Razi, Ibnu Sina dianggap telah melenceng dari ajaran Islam. Bahkan, para teolog muslim mengatakan bahwa apa-apa yang diungkapkan oleh para filosof Islam banyak bertentangan dengan ajaran al-Qur`an dan Sunnah Rasul. Hal itulah yang nampaknya mempengaruhi al-Ghazali untuk menulis sebuah karya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tahâfut al-Falâsifah”&lt;/span&gt;, yang banyak mengkritik pemikiran Ibnu Sina. Tak hanya mengkritik, Ghozali bahkan sampai pada tahap mengkafirkan beberapa pandangan Ibnu Sina yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah perhelatan filsafat (Islam) terus bergulir. Setelah al-Ghozali hadirlah al-Razi yang juga melakukan kritik senada terhadap filsafat paripatetik serta berbagai ajaran filsafat hasil terjemahan dari buku-buku Yunani. Namun terlepas dari “tuduhan” bahwa Ibnu Sina telah melenceng dari Islam akibat filsafat, perlu kiranya kita membaca data lain bahwa Ibnu Sina adalah seorang filosof Islam yang “selamat” secara iman dan akidah. Dalam kitab &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Turâtsuna al-Falsafi; Hâjatuhu ila al-Naqdi wa al-Tamhîshi”&lt;/span&gt; karya Muhammad Ridla al-Syabîbi, kita dapat menemukan bahwa Ibnu Sina memiliki sebuah karya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al-Khithab wa al-Tamjîdât”&lt;/span&gt; atau dalam referensi lain disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al-Khitab al-Tauhîdiyyah”&lt;/span&gt;. Adalah sebuah buku berisi do’a-do’a atau pujian-pujian khusus dengan menggunakan asâlib (susunan kalimat) khas para filosof. Baris-baris kalimat yang (mungkin) tidak dipahami oleh masyarakat umum (karena tidak populis). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diriwayatkan oleh seorang muridnya, al-Jurjani, ketika menceritakan biografi Ibnu Sina, ia mengatakan bahwa gurunya (Ibnu Sina) sering meminta pertolongan kepada Tuhan ketika dihadapkan pada sebuah persoalan besar dan rumit melalui jalur sholat. Ibnu Sina juga disebutkan sempat menuliskan tafsir (penjelasan) tentang beberapa surat pendek al-Qur`an (seperti surat al-Ikhlash dan al-Falaq), serta berbagai ulasan lainnya terkait trik-trik ketika berdo’a agar diterima dan dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit data di atas, setidaknya menceritakan kepada kita bahwa Ibnu Sina pun masih mengimani sholat (yang notabene merupakan salah satu pilar Islam) sebagai kendaraan menuju pencerahan. Meskipun, patut disadari bahwa perdebatan para pakar tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syakhshiyyah&lt;/span&gt; (pribadi) Ibnu Sina masih terus berlanjut. Lalu, bagaimana dengan kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, filsafat terbukti mampu mempertahankan eksistensinya. Ia menjadi sebuah disiplin yang terus berjalan, dinamis, tidak mandeg apalagi hilang. Justru ia semakin menjulang meski badai tak jarang menerpa dari berbagai sisi. Tak hanya di Barat, bahkan di Timur, filsafat Islam kembali hidup, setelah beberapa saat mengalami &lt;span style="font-style:italic;"&gt;vacum&lt;/span&gt; akibat “agresi militer” bertubi-tubi dari kalangan teolog Islam. Hal itu ditandai dengan kemunculan Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd. Adapun sepak terjang dari ketiga tokoh tersebut mungkin tidak akan dibahas di sini, karena keterbatasan ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan awal pada ruas ini, penulis membayangkan bahwa filsafat adalah sebentuk pohon yang kokoh. Akar-akarnya tertancap kuat di kedalaman bumi, sehingga ia tak goyah dalam perhelatan sengit melawan angin dan badai. Meskipun banyak yang “membenci”nya, namun ia bagai manusia berhati baja yang tegar menatap dunia. Sebab, menurutnya (filsafat) ia ada justru karena dunia masih ada. Ia baru akan hilang ketika hamparan bumi telah digulung oleh Sang Pencipta, hingga Rakib-Atid menutup bukunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dari Teori Menuju Aplikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak menyimak berbagai kasus di atas, setidaknya kita dapat mengambil sebuah antitesis, bahwa oleh sebagian kalangan, filsafat dipandang sebagai disiplin keilmuan yang tak memberi kontribusi berarti bagi kemakmuran hidup manusia. Menurut mereka, “jabang bayi” filsafat hanyalah rentetan teori-teori rumit yang sulit dipahami. Filsafat tidak berorientasi memberikan pedoman hidup kepada manusia dalam tataran praksis. Walhasil, filsafat hanya berotasi di kawasan langit, begitu jauh dan tidak membumi. Jangankan untuk mengaplikasikannya, mempelajari teorinya saja susah. Dengan demikian, mereka menganggap bahwa filsafat justru merusak kebahagiaan manusia, destruktif! Juga, sebagian orang awam akan bertanya-tanya, apa wujud konkrit sumbangsih filsafat dalam peradaban manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, jika demikian pertanyaannya, kita perlu melakukan penjelajahan singkat ke belakang (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;flash back&lt;/span&gt;), napak tilas jejak filsafat. Dengan demikian, kita dapat memetakan sejauh mana tugas dan fungsi filsafat yang sebenarnya. Apakah memang benar ia hanya berkutat pada tataran teori-metafisis, ataukah ia mempunyai garapan konkrit yang praksis-aplikatif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh ke belakang, pada masa kemunculan filsafat Yunani, kita akan menemukan sisa-sisa peninggalan dua aliran filsafat terkemuka, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;teoretis oriented&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;praksis oriented&lt;/span&gt;. Model pertama digawangi oleh Aristoteles yang mengorientasikan filsafat guna meraih kepuasan otak dan nalar, melalui jalan pencarian hakekat atas segala sesuatu. Tipe selanjutnya adalah yang menjadikan filsafat sebagai wasilah untuk dapat berprilaku dan beretika secara benar. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Socrates dan pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu melangkah ke abad pertengahan, kita disuguhi berbagai peninggalan agung filsafat sebagaimana dicetuskan al-Farabi. Kali ini filsafat benar-benar dijadikan lokomotif guna mencapai tujuan mulia, merealisasikan kebahagiaan manusia. Aliran ini layaknya hasil sintesis dua aliran yang tak hanya mementingkan teori ataupun aplikasi saja, namun mensinergikan keduanya. Hasilnya, al-Farabi mampu mencetuskan berbagai postulat penting dalam rangka mewujudkan masyarakat madani yang dinamis dan “berkah”. Hal ini dapat kita temukan dalam beberapa karyanya, antara lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ârâ`u Ahli al-Madînah al-Fâdhilah&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sampailah kita pada abad modern, dimana jumhur filosof meyakinkan bahwa filsafat bukanlah sebuah entitas yang tak mengenal realita, hanya berputar-putar pada penalaran hampa, menyeret pengkajinya ke ranah maya dalam kesendirian yang menyingkirkan dari ramai dunia. Jika konon filsafat sempat difugurkan sebagai alat pemuas hasrat intelektual semata, kini filsafat ditempatkan sebagai “abdi” masyarakat. Ia berposisi sebagai sarana bagi masyaralat guna mewujudkan tatanan yang mapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hasil konklusi perjalanan singkat di atas, kita dapat merumuskan bahwa sejatinya, filsafat mempunyai dua arah tujuan; jangka pendek dan jangka panjang. Tujuan terdekat filsafat adalah menemukan hakikat segala sesuatu (melalui berbagai teori dan metodologi). Sementara muara akhirnya adalah aplikasi dari berbagai teori tersebut dalam dunia aksi (prilaku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ada yang menyangkal: “Jikapun benar bahwa sejatinya filsafat ditujukan demi kebahagiaan manusia, kemakmurannya, juga demi memberikan perubahan mendasar dalam segi budaya dan mengantarkan pada peradaban maju, kenapa sejauh ini filsafat masih terkesan mandul?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang?! Bahkan para sejarawan mencatat, bahwa tidak ada revolusi yang terjadi dalam bidang sosial-kemasyarakatan, agama, politik dan lain sebagainya, kecuali di baliknya ada filsafat. Atau, jikapun tidak para filosof langsung yang terjun dalam revolusi, setidaknya orang-orang yang dipengaruhi filsafatlah yang melakukan revolusi. Jadi, dalam hal ini filsafat telah menjadi spirit untuk melakukan perubahan menuju peradaban yang lebih luhur.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang Perlu Diambil dari Filsafat? &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Manhaju al-Bahtsi ‘inda al-Kindi”&lt;/span&gt;, Fatimah Isma’il menjelaskan bahwa, manfaat terbesar yang bisa kita ambil dari mempelajari filsafat dan sejarahnya adalah kita dapat mengetahui berbagai tahapan metodologi yang ditempuh oleh para filosof, sehingga mereka bisa sampai pada sebuah tingkatan, dimana hingga sekarang nama mereka tetap abadi. Meski telah beribu tahun raga mereka terkubur dalam tanah, namun ruh mereka seakan terus ada melingkupi alam intelektual generasi masa kini. Metodologi yang mereka hasilkan itulah yang dahulu mampu memberikan perubahan pada realita kehidupan sosial dan budaya masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak benar jika belakangan banyak kalangan berpandangan bahwa mengkaji pemikiran klasik hanya akan menyebabkan ketertinggalan (regresivitas). Bahkan, terkhusus bagi pengkaji filsafat, ia tak kan bisa lepas dari kerangka sejarah filsafat. Yang menarik bahwa, di sela-sela mengkaji filsafat, kita akan banyak menemukan hal ajaib dalam tubuh filsafat maupun pribadi para filosof. Apalagi jika kita jeli dan sabar menelusuri jejak filsafat, kita akan mendapati sebuah mata rantai berkesinambungan serta keterkaitan antar bagian di dalamnya, baik di masa lampau, sekarang dan hingga masa mendatang. Yang terpenting lagi dalam “membaca” filsafat bukan terletak pada obyek kajiannya, melainkan metode riset yang dipilih dan dipakai oleh tiap-tiap filosof dalam menjawab setiap fenomena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bagi setiap pengkaji filsafat agar lebih memperhatikan segi metode dalam penyelesaian berbagai kasus. Sebab filsafat adalah usaha pencarian hakikat dalam berbagai hal. Oleh karena itu, setiap pencari kebenaran bebas menempuh jalan sesuai yang ia kehendaki, dengan beragam metode yang ia pilih sebagai kendaraan menuju tujuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berhijrah dari Gelap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai loncatan sementara, karena penulis yakin perbincangan filsafat tak akan final jika hanya ditulis dalam beberapa lembar kertas, maka sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa kita tak pantas memandang sinis filsafat. Dengan ungkapan lain, kiranya tak adil jika kita hanya memfonis, sementara kita sendiri belum mencoba dan berusaha. Banyak orang skeptis atas sesuatu, namun dirinya sendiri justru diam seribu bahasa. Jika demikian, lalu bagaimana bisa menang? Lorong filsafat memang panjang, bak labirin yang licin. Namun jika menyerah sebelum bertanding, jika hanya mencibir tanpa mencicipi, itu sama halnya seperti pecundang. Vince Lombardi berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Winner Never Quit and Quitters Never Win.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat selamanya akan menjadi gelap jika kita masih menganggapnya gelap. Filsafat akan selalu abstrak jika kita hanya memandangnya dari kejauhan. Seperti halnya kita memandangi gurun pasir putih dari atas mobil. Di mata kita terlihat seperti ada haluan air, namun sebenarnya fatamorgana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu jika ada yang berkata:  “Filsafat itu abstrak. Tidak ada jawaban yang pasti. Setiap orang punya ide sendiri-sendiri tentang persoalan filosofis, dan tak seorang pun dapat mengklaim bahwa ia memiliki kebenaran yang mutlak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Statemen tersebut sangat umum. Banyak argumen filosofis yang memang abstrak, namun bukankah benar pula bahwa filsafat kadang-kadang sangat konkret dan juga praktis? Bahkan, penulis lebih cenderung mengatakan: jawaban yang “terang” terhadap sebagian besar pertanyaan filosofis terlalu banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejumlah kasus, gagasan filosofis sulit dipahami bukan karena terlalu abstrak, terlampau melayang jauh dari kehidupan kita sehari-hari, melainkan justru karena teramat konkret! Filsafat ada kalanya menyentuh sedemikian-dalam hal-hal yang tak terpahami oleh kita karena obyek pembahasan itu terlalu dekat dengan kehidupan kita. Pernahkah anda mencoba melihat mata kanan Anda dengan mata kiri Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pungkasan tulisan ini, penulis hendak berkata bahwa sejak kecil kita semua mungkin telah mendengar kalimat “filosofi”. Filosofi Petani, Filosofi Berdagang, Filosofi Memancing, Filosofi Bekerja dan filosofi-filosofi lainnya. Kalimat-kalimat itu sering kita dengar dari para guru, kiai, juga bapak-ibu dan kakek-nenek kita. Simpel dapat kita pahami bahwa maksud dari kata itu adalah hakikat, sesuatu (nilai) yang terletak di balik kata dan perbuatan. Sehingga ketika kita mengetahui hakikat dari segala sesuatu, kita akan mampu melaksanakan segala sesuatu itu secara bijak dan sesuai fitrah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kenapa kita harus terjebak di belantara filsafat yang sarat dengan teori, padahal sebenarnya kandungan filsafat mampu kita simplifikasikan sedemikian rupa? Filsafat tak sepenuhnya rumit, namun sebagian besar justru praktis-aplikatif. Tergantung bagaimana kita bisa memilah dan memilih! Maka, setelah sejenak melakukan “perkenalan” dengan filsafat, kita akan bisa menyibak lorong gelapnya. Jika masih bingung, mari kita lanjutkan perjalanan tak berujung. Karena ilmu Tuhan sungguh maha luas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallâhu a’lam!&lt;/span&gt;[]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*Tulisan ini telah dimuat dalam &lt;a href="http://afkar.numesir.org"&gt;Majalah Afkar&lt;/a&gt; PCINU Mesir edisi 51, 20 November-15 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-3693816609368925231?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/3693816609368925231/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=3693816609368925231' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/3693816609368925231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/3693816609368925231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/11/kajian-tematik-2.html' title='Kajian Tematik (2)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/STKQmAJuaXI/AAAAAAAAAkM/V8Xtdx8DGXw/s72-c/lorong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-8452430228350118929</id><published>2008-11-29T03:28:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T04:26:10.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kaji Tokoh Hadits'/><title type='text'>Kaji Tokoh Hadits (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/STE0wVwMjvI/AAAAAAAAAj8/mIddOtrosyk/s1600-h/sufi1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 176px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/STE0wVwMjvI/AAAAAAAAAj8/mIddOtrosyk/s200/sufi1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274054643705220850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibnu Shalâh; Sang Guru Ilmu Hadits*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkaji disiplin ilmu hadits adalah pekerjaan yang tak mudah. Sebab, disiplin ini berbeda dengan ilmu-ilmu Islam lainnya dalam segi sejarah, proses transmisi, dialektika, dinamika pro-kontra, maupun kerumitan-kerumitan tersendiri yang membuatnya ‘istimewa’. Kenapa ‘istimewa’(?), karena ilmu ini hanya ada dalam Islam dan tak dimiliki oleh agama-agama lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak heran jika Allah SWT menyebut pengikut nabi Muhammad SAW sebagai umat terbaik (baca: QS. Ali Imran [3]: 110). Pasalnya, umat Muhammad ini dibekali dengan berbagai macam perlengkapan guna mengaktualisasikan potensi dirinya sebagai khalifah. Di antara perlengkapan tersebut adalah Sunnah, yang tiada lain merupakan sumber pengambilan hukum kedua setelah al-Qur’an. Juga, pada saat yang bersamaan Sunnah berfungsi sebagai pedoman hidup dan lentera penerang dalam mengarungi belantara kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, umat Islam mempunyai perhatian yang demikian besar dalam rangka menjaga warisan Nabi ini, dengan sebaik-baiknya. Di antaranya melalui jalur transmisi, yaitu proses penyampaian secara berkesinambungan dari masa ke masa, lintas generasi, sehingga sampai pada masa di mana ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang. Walhasil, Sunnah Nabi hingga kini masih lestari, mengukuhkan diri sebagai sumber ‘energi’, laksana mata air yang selalu dicari oleh manusia guna menyeka dahaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun terkait dengan proses transmisi Sunnah, paska terjadinya tragedi fitnah setelah kemangkatan Utsman, beberapa kalangan tak bertanggung jawab mulai menerapkan akal bulusnya guna menguatkan posisi kelompok masing-masing. Akhirnya, muncullah berbagai hadits paslu yang dibuat-buat demi kepentingan hawa nafsu. Melihat fenomena na’as semacam ini, ulama Islam (setelah masa-masa fitnah mereda) bersegera melakukan reaksi dalam rangka menyelamatkan Sunnah dari penyelewengan dan pendustaan. Mereka lalu memisahkan antara hadits yang shohih dan hadits yang dho’if. Hal itu dilakukan melalui berbagai proses penyaringan yang ketat dan selektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah proses inilah akhirnya dikenal berbagai terminologi dalam bidang musthalah hadîts, yang kesemuanya terangkup dalam disiplin ulûm al-hadîts. Terkait pembahasan ulûm al-hadîts, kita tentu tak akan lupa dengan seorang ulama terkemuka, yang telah berjasa menggarap rancang bangun ulûm al-hadîts sehingga ia menjadi satu disiplin ilmu yang mapan. Siapakah ia? Mari kita simak pembahasan lebih lanjut tentang tokoh kita dalam kajian kali ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenal Pribadi Ibnu Shalâh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama aslinya Taqiyyuddîn Abu ‘Amr Utsman bin Abdurrahman bin Utsman bin Musa al-Kurdi al-Syahrazuri. Ibnu al-Shalâh sendiri awalnya adalah julukan ayahnya, lalu whatdinisbatkan kepada Abu ‘Amr sehingga sampai sekarang ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Shalâh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah Syarkhân, yaitu sebuah desa yang terletak dekat Syahrazur, kawasan Irbil di sebelah utara Irak adalah saksi bisu di mana Ibnu Shalâh dilahirkan, pada tahun 577 H/1181 M. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang berada nan agamis. Ayahnya, Abdurrahman, adalah seorang ulama terkemuka yang dikenal sebagai pakar fikih madzhab Syafi’i. Oleh sebab itu, sejak kecil ia mulai dikenalkan dengan fikih oleh ayahnya sendiri. Meskipun masih tergolong belia, namun Utsman kecil telah mampu menyerap berbagai pelajaran dari ayahnya. Tak tanggung-tanggung ia telah berulang kali menghatamkan kita “Muhadzdzab” dan mempelajari berbagai macam dalil yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Fase berikutnya, Ibnu Shalâh diutus oleh ayahnya untuk berhijrah ke Maushul untuk menuntut disiplin ilmu lainnya. Di sana ia benar-benar rajin belajar sehingga mampu menguasai berbagai ilmu seperti: fikih, ushul fikih, tafsir, hadits, bahasa dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Petualangan Ibnu Shalâh dalam Mencari Ilmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shalâh tergolong sebagai sosok petualang sejati. Ia berpetualang ke berbagai negeri Islam dalam rangka mencari ilmu, sebagaimana yang pernah dilakukan dan menjadi sunnah hasanah para ulama terdahulu. Terutama sebagaimana yang lazim ditempuh oleh para ulama hadits, mereka rela bepergian dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negeri ke negeri lainnya hanya demi mendapatkan (mendengarkan) sebuah hadits. Fakta sejarah ini terekam dalam sebuah karangan imam Abu Bakar al-Khathîb al-Baghdâdi bertajuk “al-Rihlatu fî Thalabi al-Hadîts”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Ulûm al-Hadîts atau yang lebih dikenal dengan nama Muqaddimah Ibnu al-Shalâh juga dicantumkan berbagai riwayat terkait petualangan para sahabat dan tabi’in dalam mendapatkan hadits. Yaitu sebagaimana termaktub dalam pembahasan bagian ke-28, tentang ma’rifatu âdâbi thâlibi al-hadîts dan pembahasan ke-29 tentang ma’rifatu al-isnâd al-‘âli wa al-nâzil. Maka, bagi yang ingin membaca lebih detail seputar riwayat-riwayat tersebut, silahkan langsung merujuk ke kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian petualangannya, Ibnu Shalâh tercatat telah mengunjungi berbagai ibukota penting negara-negara Islam. Setelah bermukim di Maushul selama beberapa tahun, beliau lalu hijrah ke Baghdad, ke Khurasan dan kemudian melanjutkan ke Syam. Dalam persinggahannya di beberapa kota tersebut, beliau belajar kepada para ulama setempat dan secara khusus mendalami ilmu hadits, sampai beliau menguasainya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika di Maushul beliau sempat berguru pada beberapa ulama terkemuka di sana, antara lain; ‘Ubaidillah bin al-Samîn, Nashrullah bin al-Salâmah, Mahmoud bin Ali al-Maushili dan lain sebagianya. Di Baghdad beliau berguru kepada Abi Ahmad bin Sukainah dan Abi Hafsh bin Thabarzad. Sedangkan ketika di Hamadan, beliau belajar dari Abi al-Fadhl bin al-Mu’azzam. Di Naisabur beliau menimba ilmu pada sejumlah besar ulama’ di sana, antara lain; Abi al-Fath Manshur bin Abdil Mun’im bin al-Furâwiy, Mu`ayyid bin Muhammad bin Ali al-Thûsi, Zainab binti Abi al-Qâsim al-Sya’riyyah dan lain-lainya. Dan masih banyak lagi guru-guru Ibnu Shalâh yang tersebar di berbagai tempat yang pernah ia singgahi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kondisi Sosio-Politik Di Masa Hidup Ibnu Shalâh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semasa hidup, Ibnu Shalâh termasuk salah satu ulama yang beruntung karena mendapati sebuah miliu yang kondusif, stabil dan mendukung aktivitas keilmuan. Beliau hidup di masa kesultanan Ayyubiyyah, yang dikenal dengan keberanian dan kepahlawanan mereka. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai pemimpin-pemimpin yang adil, bijaksana dan selalu melakukan perbaikan di berbagai wilayah yang telah mereka kuasai. Tak hanya itu, mereka sangat sadar bahwa kemenangan mereka dalam pertempuran tidak akan sempurna jika tak diiringi dengan kemajuan di bidang peradaban, yang mana pilar-pilarnya adalah ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pemerintah berjihad untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, dengan jalan mendirikan berbagai madrasah dan pesantren. Kondisi seperti ini tentu saja memberikan peluang yang sangat besar kepada umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain Ibnu Shalâh, berbagai ulama lainnya pun muncul dalam spesifikasi ilmu yang beraneka ragam. Di antaranya seperti Abdul Ghani al-Muqaddasi (w. 600 H), Ibnu al-Atsîr al-Jazariy (w. 606 H), Ibnu ‘Asâkir al-Qâsim Bahâ`uddîn Abu Muhammad al-Dimasyqi (w. 600 H) dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Syam kala itu termasuk salah satu kota yang terkenal memiliki banyak pesantren dan perguruan tinggi.  Di negeri ini pulalah tertancap kokoh sebuah madrasah yang secara khusus mengajarkan disiplin ilmu hadits. Adapun tokoh pertama yang mempelopori madrasah ini adalah Imâm al-Hâfidz Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Khathîb al-Baghdâdi (w. 463 H). Beliau berhijrah dari Baghdad dengan membawa berbagai karangannya menuju Damaskus untuk diajarkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kepergian al-Khathîb al-Baghdâdi, Ibnu Shalâh kemudian menggantikan beliau sebagai pengajar ilmu hadits. Ibnu Shalâh seperti menerima tampuk kepemimpinan untuk mengabdikan dirinya di Syam. Pada waktu itu, Ibnu Shalâh meminta kepada ayahnya untuk pindah ke Halab guna mengajar di Madrasah Asadiyyah yang berada di sana. Semenjak itulah ayah beliau mengajar di Halab dan meninggal di kota itu pada tahun 618 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu fase terpenting dalam hidup Ibnu Shalâh adalah ketika beliau berada di Damaskus. Di sanalah beliau benar-benar mencapai titik kematangan sebagai seorang ulama besar. Bintangnya semakin bersinar dan dikenal oleh masyarakat secara luas. Di sana pulalah beliau semakin gigih menyebarkan ilmu dan menulis berbagai karya. Beliau kemudian dikenal sebagai seorang faqîh, ahli ushul fikih, dan tak main-main beliau menjadi seorang mufti dan dijuluki syaikhu al-Islâm. Selain bidang fikih beliau juga menguasai bidang lainnya seperti tafsir, hadits dan sebagian besar keilmuan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai satu-satunya ulama yang paling menguasai bidang hadits (pada masa itu), sejumlah penuntut ilmu dari berbagai penjuru berbondong-bondong untuk datang menuntut ilmu kepada beliau. Sehingga, ketika dalam sebuah karya ilmu hadits disebutkan kata [Syaikh], maka yang dimaksud adalah Ibnu Shalâh. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Iraqi dalam “Alfiyyah”nya: “ketika aku menggunakan kata [Syaikh] (dalam berbagai tulisanku), maka tiada lain yang aku maksud adalah Ibnu Shalâh”. Dengan demikian, setelah melihat sepak terjangnya, kapabilitas Ibnu Shalâh dalam bidang keilmuan Islam sudah tak diragukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dahulu Ibnu Shalâh adalah murid dari berbagai ulama kenamaan, maka pada gilirannya ia juga menjadi guru dari murid-muridnya, yang pada masa selanjutnya mereka juga menjadi para ulama besar. Beberapa ulama yang berguru kepada Ibnu Shalâh dalam bidang fikih adalah; imam Syamsuddîn Abdurrahman bin Nûh al-Muqaddasi, imam Kamâluddîn Sallâr, Kamâluddîn Ishâq, Taqiyyuddîn bin Zirrîn dan sebagainya. &lt;br /&gt;Adapun yang belajar hadits pada Ibnu Shalâh antara lain; Fakhruddîn Umar al-Karji, Majduddîn bin al-Muhtâr, Syaikh Tâjuddîn Abdurrahman, Zainuddîn al-Fâraqiy, al-Qâdli Syihabuddîn al-Jauriy dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ibnu Shalâh dalam Kehidupan Sehari-hari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa Ibnu Shalâh kecil tumbuh berkembang dalam naungan sebuah keluarga agamis dan berkecukupan. Hal itu pulalah yang akhirnya membentuk karakter dan kepribadiannya. Ibnu Shalâh tumbuh sebagai sosok yang taat beragama, giat nan rajin dalam menuntut ilmu serta selalu memprioritaskan hal-hal yang bermanfaat untuk dilakukan. Untuk sebuah pelajaran ia tak cukup mempelajarinya sekali, namun berkali-kali dan selalu ia teliti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shalâh adalah seorang yang zuhud dan wira’i terhadap hal-hal duniawi. Namun, dalam hal berpakaian, misalnya, beliau senantiasa menggunakan pakaian yang bersih dan serapi mungkin dalam rangka menghormati majlis-majlis ilmu yang beliau hadiri. Di samping itu, Ibnu Shalâh adalah pribadi yang mengikuti jejak para sufi dalam hal keilmuan sekaligus amalan. Ia sosok seorang hamba yang senantiasa berjihad mengalahkan hawa nafsu agar bisa meraih derajat ikhlas dalam setiap prilakunya. Dan yang perlu di catat, Ibnu Shalâh adalah seseorang yang sangat mencintai hadits beserta ilmunya, sehingga ia pernah berkata dalam kitab “Ulûm al-Hadîts”nya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ilmu hadits adalah ilmu yang mulia, yang sesuai dan seiring dengan tuntunan etika luhur,... dan ia termasuk ilmu akhirat, bukan ilmu keduniaan. Maka barangsiapa yang ingin mendengarkan (belajar) hadits, haruslah terlebih dahulu menata niat dan segenap keikhlasan!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Shalâh juga mengutip perkataan para gurunya, bahwa: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tanda orang yang panjang umurnya adalah kesibukannya dengan hadits-hadits Rasulullah SAW. Dan hal ini terbukti melalui berbagai fakta lapangan, bahwa ketika kita meneliti umur para ahli hadits, maka kita akan mendapati bahwa umur mereka di-panjang-kan (oleh Allah)”&lt;/span&gt;.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kita telah melihat bahwa segenap masa hidup Ibnu Shalâh betul-betul dihibahkan demi ilmu pengetahuan dan Islam. Tahun 643 H, bertepatan dengan tahun 1245 M adalah hari di mana Ibnu Shalâh berpulang ke rahmatullah. Tepatnya pada hari Rabu waktu Subuh dan beliau disholati setelah Dzuhur, tanggal 25 Robi`ul Akhir, di kota Damaskus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peninggalan Ibnu Shalâh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Ibnu Shalâh pergi meninggalkan berbagai buah karyanya yang terangkup dalam beberapa disiplin keilmuan. Karya-karya beliau yaitu:&lt;br /&gt;1.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thabaqâtu al-Fuqahâ` al-Syâfi’iyyah&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;2.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-`Amâliy&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;3.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fawâ`idu al-Rihlah&lt;/span&gt;, sebuah kitab menarik yang mengandung berbagai pembahasan dalam beragam ilmu, beliau tulis di sela-sela perjalanan menuju Khurasan;&lt;br /&gt;4.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adâbu al-Mufti wa al-Mustafti&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;5.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shilatu al-Nâsiki fî Shifati al-Manâsiki&lt;/span&gt;, sebuah buku yang menjelaskan tata cara dalam melaksanakan ibadah haji;&lt;br /&gt;6.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syarhu al-Wasîth fi Fiqhi al-Syâfi’iyyah&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;7.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Fatâwâ&lt;/span&gt;, sebuah buku hasil kodifikasi para muridnya, berdasarkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan Ibnu Shalâh, baik dalam bidang fikih, tafsir maupun hadits;&lt;br /&gt;8.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syarhu Shahîhi al-Muslim&lt;/span&gt;, sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam Tadrîb al-Râwi;   &lt;br /&gt;9.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Mu`talaf wa al-Mukhtalaf fî Asmâ`i al-Rijâl&lt;/span&gt;. Sebuah manuskrip yang disimpan di Dâr al-Kutub al-Dzâhiriyyah;&lt;br /&gt;10.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ulûm al-Hadîts&lt;/span&gt; atau yang lebih dikenal dengan Muqaddimah Ibnu al-Shalâh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian apa yang dapat penulis sampaikan terkait biografi Ibnu Shalâh. Semoga, melalui kajian tokoh ini kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran, sehingga dapat kita jadikan cermin untuk bermuhasabah.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam!&lt;/span&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*)Makalah ini disampaikan dalam Serial Kajian Turats Misykati pada hari Jum'at, 28 November 2008, di sekretariat Misykati, Mutsallats, Nasr City, Kairo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Ibnu al-Shalâh, Abu ‘Amr Utsmân, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muqaddimah Ibnu al-Shalâh&lt;/span&gt;, Beirut, Dâr al-Tsurayya li al-Narys.&lt;br /&gt;2.Ibnu Khaldun, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muqaddimah&lt;/span&gt;, Kairo, Maktabah Usrah, 2006. &lt;br /&gt;3.&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maushû’ah A’lâmu al-Fikr al-Islâmi&lt;/span&gt;, Kairo, Majlis A’la li al-Syu`ûn al-Islâmiyyah, 2004. &lt;br /&gt;4.Abu ‘Amr, Utsmân, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ulûm al-Hadîts li Ibni al-Shalâh&lt;/span&gt;, Beirut, Dâr al-Fikr al-Mu’âshir.                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-8452430228350118929?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/8452430228350118929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=8452430228350118929' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/8452430228350118929'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/8452430228350118929'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/11/kaji-tokoh-hadits-1.html' title='Kaji Tokoh Hadits (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/STE0wVwMjvI/AAAAAAAAAj8/mIddOtrosyk/s72-c/sufi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-9013332004051494889</id><published>2008-11-22T03:41:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T03:48:41.263-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedia'/><title type='text'>Safari Perpustakaan (5)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERPUSTAKAAN UMUM MUBARAK&lt;br /&gt;(Mubarak Public Library)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori, dkk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Umum Mubarak atau yang biasa disebut dengan Mubarak Public Library (MPL) diresmikan oleh Presiden Husni Mubarak pada tanggal 21 Maret 1995. Perpustakaan ini menggambarkan salah satu tipe unik dari perputakaan–perpustakaan Mesir dari segi pendirian dan pengelolaannya. Perpustakaan ini berhasil berdiri atas hasil kerjasama dan jerih payah berbagai daerah dalam negeri dan mancanegara, merekalah yang ikut andil dalam institusi ini. Daerah–daerah tersebut termasuk dalam "Cultural Development Found" ( Dana Pengembanagan Kebudayaan), hak pemerintah yang dikontrol oleh Menteri Kebudayaan, "Integrated Care Society" ( Perhimpunan Peduli Integrasi ), sebuah organisasi non-pemerintahan (NGO), dan "Bertelsmann Foundation", sebuah institusi pribadi Jerman. Perpustakaan ini diawasi oleh dewan pemimpin yang terdiri dari perwakilan yang diambil dari tiap daerah yang telah disebutkan sebelumnya. Dewan ini bekerjasama dengan pemerintah, yang diharapkan dapat menciptakan hubungan langsung serta mengembangkan rangkaian gerakan antar perpustakaan, seperti layaknya mempertahankan tingkat efisiensi yang membangun karakteristik pada pemunculan pertama perpustakaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kandungan Filosofi Perpustakaan Mubarak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Tujuan utama perpustakaan Mubarak didirikan adalah menyebarkan dan memperluas pengetahuan umum serta mengembangkan kebiasaan membaca di antara generasi muda.&lt;br /&gt;- Menyediakan fasilitas membaca untuk segala umur dan segala kalangan.&lt;br /&gt;- Membuka peluang saham melalui berbagai jalur.&lt;br /&gt;- Menerapkan klasifikasi dengan menggunakan pemasukan pokok di berbagai macam area pelayanan dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;- Menunjukkan seluruh sasaran dalam penciptaan Interest Groups (IG).&lt;br /&gt;- Membuang alat–alat yang tidak digunakan dan tak layak pakai dan kemudian menggantinya. &lt;br /&gt;- Memberikan sumbangsih dalam penyebaran informasi tekhnologi dengan tujuan memberikan keuntungan bagi publik.&lt;br /&gt;- Ikut berpartisipasi dan berinteraksi di even-even terbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Figure Perpustakaan Mubarak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Perpustakaan Mubarak terdiri dari empat lantai dengan dilengkapi taman yang ada di sekeliling bangunan, dengan luas area 2600 meter2.&lt;br /&gt;- Jumlah anggota perpustakaan yang telah tercatat sampai akhir tahun 2004, mencapai sekitar seratus ribu, yang tujuh belas ribu diantaranya menjadi anggota aktif.&lt;br /&gt;- Lebar rak yang tersedia di dalam perpustakaan totalnya berjumlah 1700 meter.&lt;br /&gt;- Terdiri dari 450 kursi 80 meja baca yang disediakan untuk kalangan dewasa, anak-anak dan disediakan juga ruangan untuk pertemuan, teras, jumlah kursi itu termasuk  jumlah kursi yang disediakan di taman.&lt;br /&gt;- Jumlah total audio/video 70 unit ( termasuk video, audio, CD, DVD players).&lt;br /&gt;- Terdapat 150 PC units yang disediakan untuk anggota dan staff.&lt;br /&gt;- Jumlah buku yang dipinjamkan mencapai lebih dari setengah milyar tiap tahun.&lt;br /&gt;- Sekitar 135.000 benda-benda sejarah disediakan bagi anggota perpustakaan, ini termasuk buku, kaset audio dan video, CD audio dan multimedia dan juga DVD, di samping itu disediakan pula koleksi majalah dan surat kabar Arab serta manca negara pilihan.&lt;br /&gt;- Buku–buku untuk kalangan dewasa tersedia sekitar 43% dari total koleksi perpustakaan, sekitar 47% bagi anak–anak, dan audio/video dan CD multimedia sekitar 10%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keanggotaan Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Perpustakaan menerima keanggotaan dari semua kalangan masyarakat, laki-laki dan perempuan, dari berbagai profesi dan usia, dimulai dari usia 3 tahun.&lt;br /&gt;- Anggota dapat menggunakan seluruh pelayanan yang disediakan oleh perpustakaan. &lt;br /&gt;- Terdapat dua jenis keanggotaan; individu dan keluarga.&lt;br /&gt;- Pendaftaran untuk keanggotaan diserahkan kepada Divisi Keanggotaan di lantai dasar.&lt;br /&gt;- Untuk informasi lebih lanjut tentang keanggotaan perpustakaan, harap cek pada MPL website: http://www.mpl.org.eg &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana Menemukan Apa yang Anda Cari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Cek di bagian informasi yang tersedia di berbagai divisi dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;- Cari katalog benda kebudayaan otomatis dari tiap layar komputer yang tersedia dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;- Mengikuti perkembangan buku-buku yang tercetak yang tersedia di tiap bagian perpustakaan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;- Ikuti pertemuan–pertemuan untuk orientasi perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelayanan yang Disediakan oleh Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Panduan (Guiding): Tim kerja perpustakaan membantu pelanggan untuk mencari subjek yang mereka cari.&lt;br /&gt;- Bibliographic Search: Memberikan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan tentang subjek atau pengarang tertentu.&lt;br /&gt;- OPAC (Online Public Access Catalogue): Perpustakaan menggunakan sistem gabungan perpustakaan (UNICORN) untuk memfasilitasi pencarian koleksi perpustakaan  di samping via worldwide web.&lt;br /&gt;- Current Awareness: Menyediakan daftar buku-buku terbaru yang bisa ditemukan website perpustakaan dalam internet, ada juga yang berbentuk hard copy&lt;br /&gt;- Subject indexes: Menyediakan layanan untuk berbagai cultural event dan interest groups ( IG ).&lt;br /&gt;- Electronic Points (e-points): Layanan ini berupa informasi tentang semua ada di perpustakaan berupa keterangan-keterangan dll. Layanan ini bisa didapat dari computer personal yang disambung dengan internet langsung atau yang lainnya.&lt;br /&gt;- The Internet: Anggota perpustakaan dapat mengacces internet gratis.&lt;br /&gt;- Library Collection: Perkembangan koleksi selalu di update untuk memnuhi kebutuhan anggota dan disesuaikan dengan tujuan perpustakaan.&lt;br /&gt;- External Borrowing:  Anggota perpustakaan diperbolehkan meminjam lebih dari lima buku dan bisa diperpanjang setiap dua minggu, memperpanjang masa peminjaman bisa dilakukan melalui telepon dan website perpustakaan.&lt;br /&gt;- In-house Use of Library Materials: Anggota dapat juga memanfaatkan benda-benda kebudayaan yang tersedia di dalam gedung yang ada di samping perpustakaan    &lt;br /&gt;- A/V Material: Anggota dapat juga melihat film, mendengarkan musik dan lagu ataupun menggunakan media self teaching ( bahasa asing, computer, dll ).&lt;br /&gt;- The Digital Library: Menyediakan access memungkinkan untuk mendapatkan informasi apapun melalui digitalisasi di dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;- Photocopying Service: Pelayanan ini disedikan bagi para pelanggan dengan fotocopy berkwalitas tinggi dengan harga yang sesuai, dengan pertimbangan hak properti intelektual.&lt;br /&gt;-  Suggestions: Anggota akan menemukan kotak saran dan kritik di dalam perpustakaan yang memberikan wadah untuk para anngota mengungkapkan yang mereka butuhkan.&lt;br /&gt;- Cultural Activities: Kegiatan ini menampung minat para anggota dan mengembangkan bakat mereka, dalam hal ini perpustakaan meneyediakn seminar umum dan mengelola workshop dan juga pameran exhibition, di samping itu juga meyusun seminar yang diperuntukkan para pemikir dunia nasional dan internasional.&lt;br /&gt;- Visits: MPL menyambut tamu dan delegasi yang berunjung ke perpustaaan &lt;br /&gt;- Training: perpustakaan menyusun trining program bagi para anggota dan para librarian,contohnya: &lt;br /&gt;             * PC training personal computer&lt;br /&gt;             * training untuk librarian dan infomasi dengan kualifikasi khusus &lt;br /&gt;             * training program bagi para pelajar undergraduate dan informasi sains&lt;br /&gt;             * menyediakan laboratorium bahasa bagi pengguna untuk bisa belajarbahasa inggris dilengkapi dengan tekhnologi modern dan programpembelajaran yang mutakhir .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tour Menjelajah Perpustakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;      - Lantai Dasar : Mencakup sirkulasi dan area pelayanan anggota, meja informasi, toko, dan kantor staff perpustakaan.&lt;br /&gt;      -  Lantai I : Perpustakaan bagi kalangan dewasa, meliputi aula khusus untuk inhouse reading dan rak, alat audio/video dan multimedia, internet, area galeri, dan kafetaria.&lt;br /&gt;      -    Lantai II : Perpustakaan untuk anak–anak, meliputi ruang membaca dan beraktifitas disertai dengan kantor pengelolaan.&lt;br /&gt;      -    Lantai III :   Meliputi ruang seminar dan konferensi, teras, dan beberapa kantor staff.&lt;br /&gt;     -     Setiap lantai terdapat ruang istirahat bagi laki–laki dan perempuan.&lt;br /&gt;     -    Dilengkapi elevator di dalam perpustakaan yang tersedia untuk kalangan lanjut usia.&lt;br /&gt;     -      Perpustakaan dilengkapi dengan taman yang luas serta menyediakan kursi bagi para pembaca yang ingin membaca di udara terbuka.&lt;br /&gt;    -      Pusat pelatihan disediakan di bangunan terpisah dari perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aturan Penggunaan Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang harus dilakukan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Menunjukkan kartu keanggotaan perpustakaan ketika diminta oleh petugas.&lt;br /&gt;2. Memperbaharui kartu anggota bila telah habis masa berlakunya dengan mengembalikan kartu anggota yang lama kepada perpustakaan.&lt;br /&gt;3. Menjaga ketenangan dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;4. Anak di bawah umur 6 thn harus didampingi selama berada dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;5. Mengembalikan peralatan maktabah setelah selesai memakainya.&lt;br /&gt;6. Anggota makatabah melengkapi prosedur peminjaman sebelum meningalkan perpustakaan.&lt;br /&gt;7. Mengikuti peraturan yang telah ditentukan (seperti internet, kegiatan kebudayaan, program pelatihan, dll).&lt;br /&gt;8. Bila menemukan barang hilang, segera serahkan ke kantor keamanan.&lt;br /&gt;9. Barang-barang milik pribadi harus ditinggalkan di kantor keamanan.&lt;br /&gt;10. Mengembalikan buku pinjaman tepat pada waktunya, dengan mengikuti prosedur yang akan disediakan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang harus ditinggalkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Memasuki area khusus staf.&lt;br /&gt;2. Keluar perpustakaan dengan membawa buku yang belum tercatat dalam data perpustakaan.&lt;br /&gt;3. Menyobek halaman buku ataupun majalah.&lt;br /&gt;4. Memecahkan ataupun merusak benda-benda kebudayaan.&lt;br /&gt;5. Mengkopi data-data audio video lewat tape pribadi.&lt;br /&gt;6. Menggunakan ponsel seluler di jalan dalam ruang baca.&lt;br /&gt;7. Menggunakan berbagai macam kamera tanpa ijin dari pengelola maktabah.&lt;br /&gt;8. Membawa makanan ataupun minuman dari luar kafetaria yang disediakan.&lt;br /&gt;9. Merokok dalam perpustakaan.&lt;br /&gt;10. Mengganggu ketenangan para pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CABANG ZAYTOUN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 24 Maret 1999, Ny. Suzan Mubarak sebagai Ketua Dewan Direktur MPL meresmikan perpustakaan cab. Zaytoun dengan tujuan untuk mencapai target MPL di lokasi lain di luar lokasi Cairo yang lebih besar.&lt;br /&gt;- Seluruh sistem keamanan dan prosedur yang digunakan di perpustakaan utama diterapkan juga di perpustakaan yang terdapat di cabang. &lt;br /&gt;- Dengan lantai dasar seluas 360 m yang dilengkapi dengan taman, sedangkan luas lantai satu terhitung 1240 m.&lt;br /&gt;- Mempunyai divisi pelayanan yang sama diterapkan di perpustakaan utama.&lt;br /&gt;- Zaytoun terhubung dengan perpustakaan pusat menggunakan electronic leased line.&lt;br /&gt;- Kartu keanggotaan memungkinkan anggota untuk menggunakan seluruh pelayanan yang disediakan baik di maktabah utama ataupun cabang.&lt;br /&gt;- Diperbolehkan mengembalikan buku pinjaman di perpustakaan utama ataupun cabang.&lt;br /&gt;- Total anggota perpustakaan di Zaytoun sejak didirikannya berjumlah sekitar 6000 anggota.&lt;br /&gt;- Perpustakaan mengelola sekitar 33000 benda-benda peninggalan budaya selain koleksi surat kabar dan majalah arab maupun manca Negara pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERPUSTAKAAN DAERAH &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melihat sukses yang diraih MPL di tingkat kebudayaan, Ny. Suzan Mubarak memutuskan untuk meluaskan model MPL pada tahun 2000 di berbagai propinsi. Fakta yang ada mengatakan di tiap propinsi dalam kerjasamanya dengan MPL dimulai sejak mendirikan perpustakaan umum sesuai spesifikasi dan standar yang disyaratkan oleh Dewan Direktur MPL. Dalam kontek proyek kenegaraan ini, akhirnya hanya dua maktabah yang berhasil dibangun, yaitu di New Valley dan Port Said. Prosedur pembukaan di tiap perpustakaan di kota lain berada di bawah konstruksi pemerintah Mesir yang berbeda, dimulai perpustakaan umum di Mansouroh yang terletak di propinsi Dakahleya yang didirikan tahun 2005, Danietta Laut Merah (di Hurgadha), Kalyoubeya, Luxor, dan Beni Sweif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jam Kerja: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu buka berlangsung setiap hari dari pukul 11 pagi sampai 7 malam, kecuali hari Selasa dan hari libur nasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rute:  &lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;Dari H-7 naik bus 912 atau bus AC 375 coret. Dari Bu’us, Naik mini bus 46, atau bus 666. Terus turun aja di akhir kubri al-Jami’ah, setelah Universitas Cairo. Jalan ke kanan mengikuti jalan raya persis di samping sungai Nil. Jangan lupa sambil noleh kanan-kiri, soalnya kira-kira pada jarak 500 meter anda akan menemukat Maktabah Mubarak.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Buku brosur profil Mubarak Public Library, English Edition.&lt;br /&gt;• http://www.mpl.org.eg (Arabic Version).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-9013332004051494889?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/9013332004051494889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=9013332004051494889' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/9013332004051494889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/9013332004051494889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/11/safari-perpustakaan-5.html' title='Safari Perpustakaan (5)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-2778656089485800290</id><published>2008-11-09T08:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T09:02:24.269-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedia'/><title type='text'>Safari Perpustakaan (4)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perpustakaan IIIT (The International Institute Of Islamic Though)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori, dkk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sekilas Tentang IIIT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;IIIT merupakan organisasi dunia yang konsen dalam pengembangan cakrawala pemikiran dan research studi Islam kontemporer. Pertama kali ide cemerlang ini digagas pada tahun 1981 di Pennsylvania Amerika Serikat. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Misi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Institute ini muncul didedikasikan untuk;&lt;br /&gt;1. Membangkitkan dan memperbaharui pemikiran Islam;&lt;br /&gt;2. Menggali dan mengembangkan khazanah intelektual Islam;&lt;br /&gt;3. Mengembangkan metode untuk berinteraksi dengan al-Qur’an dan Sunnah;&lt;br /&gt;4. Mengembangkan metode untuk berinteraksi dengan Turats Islam; &lt;br /&gt;3. Mendorong para pengamat dan ilmuwan untuk mengamalkan prinsip-prinsip Islam;&lt;br /&gt;4. Membangun kerja sama untuk mengembangkan ilmu pengetahuan;&lt;br /&gt;5. Menemukan akar Islami bagi pengetahuan dan ilmu-ilmu humaniora;&lt;br /&gt;6.Menghadirkan layanan-layanan keilmuwan bagi para ilmuwan dan peneliti, agar bisa berinteraksi dengan berbagai ilmu dan metode-metodenya;&lt;br /&gt;7.Memberikan perhatian terhadap penciptaan hubungan antara mereka yang concern terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora dan para peneliti ilmu-ilmu sosial keagamaan yang memberikan perhatian terhadap perwujudan teks menjadi sesuatu yang aktual dan senantiasa menciptakan hubungan yang semestinya antara kedua kelompok;&lt;br /&gt;8.Menyediakan konsultasi ilmiah bagi para peneliti dari tingkat magister dan doktoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kantor Cabang dan Afiliasi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Institute ini memiliki banyak sekali cabang yang tersebar di berbagai belahan dunia, di antaranya;&lt;br /&gt;    * Bangladesh  * Jordan&lt;br /&gt;    * Bosnia   * Lebanon&lt;br /&gt;    * Brunei   * Nigeria&lt;br /&gt;    * Egypt       * Indonesia  &lt;br /&gt;    * Morocco   * Pakistan&lt;br /&gt;    * France   * Saudi Arabia&lt;br /&gt;    * India   * UK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kantor IIIT di Mesir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alamat;   &lt;br /&gt;Khaled Abdelmoneim&lt;br /&gt;Center For Epistemological Studies &lt;br /&gt;26-A Al Gazira Al Wosta St. &lt;br /&gt;Zamalek, Cairo, EGYPT.&lt;br /&gt;Tel: 202-735-9825&lt;br /&gt;Fax: 202-735-9520&lt;br /&gt;Email: Epistem@hotmail.com&lt;br /&gt;Website: http://www.eiit.org &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Program-Program:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Mengadakan seminar, diskusi dan simposium ilmiah;&lt;br /&gt;2.Mendukung para ilmuwan dengan menyebarkan karya-karyanya dan menerjemahkannya ke beberapa bahasa;&lt;br /&gt;3.Memberi perhatian khusus terhadap ilmu-ilmu humaniora dan pendidikan untuk membangun pribadi yang Islami;&lt;br /&gt;4.Membentuk kelompok-kelompok studi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inventaris: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Arsip-arsip berita dan surat kabar yang mencakup berbagai macam permasalahan dan pemikiran yang menjadi pusat perhatian para peneliti dalam masalah-masalah dunia Arab dan umat Islam. Arsip tersebut dikumpulkan dari puluhan koran dan majalah Mesir serta negara-negara Arab lainnya.&lt;br /&gt;2.Pustaka video yang menyediakan berbagai macam rekaman langka dari para ilmuwan dan pemikir besar.&lt;br /&gt;3.Buku-buku dari berbagai macam disiplin ilmu dan pengetahuan.&lt;br /&gt;4.Tesis dan Disertasi para ilmuwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Seminar-seminar yang pernah dilaksanakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Seminar Ilmiah tentang “Hijran al-Ummah Li al-Qur’an Hal Min Sabîli ilâ Izâlati Asbâbihi” dengan pembicara Dr. Thaha Jabir Alwany.&lt;br /&gt;2.Seminar Ilmiah tentang “Mu`assasah Ilmiyyah wa Ta’lîmiyyah fi ‘Ashri al-Hadhârah al-Islâmiyyah” dengan pembicara Dr. Ahmad Fuad Basya.&lt;br /&gt;3.Seminar Ilmiah tentang “Mu`assasah fi al- Hadhârah al-Islâmiyyah” dengan pembicara Dr. Muhammad Imarah.&lt;br /&gt;4.Seminar Internasional Filsafat Islam tentang “Manâhij al ‘Aum wa Falsafatuha fi Mandhûr Islâmiy” dengan pembicara Dr. Umar Kasuli, Dr. Ibrahim Rasyad Ibrahim, Dr. Muhammad Abdul Mu’thi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buku-buku yang pernah diterbitkan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.“Musthalah al-Ushûli Wa Musykilatu al-Mafâhim” karya Dr. Ali Jum’ah.&lt;br /&gt;2.“Taqyîm Wadhîfatu at-Taujîh Fi al-Bunûk al-Islâmiyyah” karya Abdul Hamid Abdul Fatah.&lt;br /&gt;3.“Al-Mar’ah Wa al-‘Amal Siyâsi; Ru’yah Islâmiyyah” karya Hibbah Rauf.&lt;br /&gt;4.“Turâtsuna al-Fikri Fi Mizân al-Syar’i Wa al-‘Aqli” karya Muhammad Ghazali.&lt;br /&gt;5.Dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rute Perjalanan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Dari H-10/H-7/H-6/Rab’ah/H-8/Abbasea naik bus/tramco jurusan Ramsis/Tahrir&lt;br /&gt;- Dari Ramsis/Tahrir naik segala macam kendaraan jurusan Zamalik (Minibus no. 47, Taxi, dll)&lt;br /&gt;- Turun di akhir  mahattah Zamalik, jalan ke IIIT sekitar 200 meter dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. www.iiit.org&lt;br /&gt;2. www.eiit.org&lt;br /&gt;3. Profil IIIT.&lt;br /&gt;4. PMIK Guide Book Safari Perpustakaan 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-2778656089485800290?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/2778656089485800290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=2778656089485800290' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/2778656089485800290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/2778656089485800290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/11/safari-perpustakaan-4.html' title='Safari Perpustakaan (4)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-7175653317159913764</id><published>2008-11-05T02:39:00.000-08:00</published><updated>2008-11-09T09:03:13.055-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedia'/><title type='text'>Safari Perpustakaan (3)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perpustakaan Qahirah Kubra&lt;br /&gt;“The Greater Cairo Public Library”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan ini merupakan perpustakaan umum terbesar di Mesir setelah perpustakaan Nasional Mesir. Diresmikan oleh Ibu Negara Suzan Mubarak pada tanggal 24 Januari 1995. Perpustakaan ini terletak di dalam sebuah istana megah di Zamalik. Dengan naik ke lantai atasnya, memandang ke arah bawah kita akan mendapati panorama sungai Nil yang elok. Konon, istana ini merupakan kediaman putri Samiha Kamel, cucu Khedive Ismail. Setelah ia wafat pada tahun 1984, istana itu dihibahkan untuk kegiatan kebudayaan. Gedung ini kemudian direnovasi oleh pihak Kementrian Kebudayuaan sejak tahun 1991 hingga 1995. Pada tahun 2005 perpustakaan ini juga mengalami renovasi lagi. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alamat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kementrian Kebudayaan sektor Produksi Kebudayaan Perpustakaan Umum Cairo, 15 Mohammade Mazhar, Zamalik, Cairo. Telpon: 27362278, Fax: 27362280.&lt;br /&gt;Website: www.library.idsc.gov.eg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Luas Area:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3.465 m2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jam Kerja:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan buka setiap hari dari jam 09.00 pagi sampai dengan jam 16.00 sore, kecuali hari Jum’at, Sabtu dan hari-hari libur nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelayanan Umum:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a.Perpustakaan utama terdiri dari referensi umum dari berbagai macam disiplin ilmu.&lt;br /&gt;b.Perpustakaan anak-anak&lt;br /&gt;c.Ruang Seminar dan konferensi &lt;br /&gt;d.Kafetaria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aset Perpustakaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aset perpustakaan mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan. Di antaranya ilmu humaniora, ilmu nasional, ilmu murni, ilmu terapan. Kini perpustakaan ini memiliki 165.000 volume buku dan referensi, 180 jurnal periodik dan sejumlah besar dokumen, peta dan pamflet. Di samping itu, perpustakaan juga memiliki kurang lebih 2 juta barang dalam bentuk material dan audovisual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Proses Teknis:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan ini memilik database bibliografi elektronik untuk mempermudah mendapatkan kembali materi-materi di perpustakaan, seperti mengakses pengarang, judul, dan penerbit.&lt;br /&gt;Katalog perpustakaan sepenuhnya dikomputerisasikan menurut system dokumentasi terbaru; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Advanced Library Information System&lt;/span&gt; (ALIS). Sistem ini di-setup oleh IDSE. Buku-buku di perpustakaan ini diklasifikasikan dan disusun menurut sistem &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Classificasion Desimal Dewey.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pelayanan Perpustakaan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Referensi dan pelayanan bibliografi&lt;br /&gt;2.Pelayanan duplikasi foto&lt;br /&gt;3.Pelayanan disenimasi informasi pilihan dan terbaru &lt;br /&gt;4.Pelayanan informasi&lt;br /&gt;5.Mendengar dan melihat dengan audio visual dan siaran televisi&lt;br /&gt;6.Peningkatan kemampuan kebudayaan dan pendidikan anak-anak&lt;br /&gt;7.Program seni dan kebudayaan, meliputi; kuliah, seminar, konferensi, budaya, kelompok, penelitian, dan pertunjukan teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mater-materi buku:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku umum dalam berbagai disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Referensi Berbahasa:&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Spanyol, Inggris, Arab, Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bentuk Pencarian Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Sistem Komputer&lt;br /&gt;2.Judul&lt;br /&gt;3.Pengarang Buku&lt;br /&gt;4.Bab Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Personalia Perpustakaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Kepala Perpustakaan; Muhammad Hamdi&lt;br /&gt;2.Pegawai Berskill; 51&lt;br /&gt;3.Pegawai Skill Menengah; 23&lt;br /&gt;4.Pegawai Unskill; 7&lt;br /&gt;5.Pegawai tidak tetap; 29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peralatan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Mesin Fotoopy&lt;br /&gt;2.Mesin Microfiche&lt;br /&gt;3.TV&lt;br /&gt;4.Video&lt;br /&gt;5.Komputer&lt;br /&gt;6.LCD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rute Perjalanan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Dari H-7/H-10/H-8/H-6/Rabea Adawea/Abbasea naik bus/tramco jurusan Ramses/Tahrir&lt;br /&gt;- Dari Ramses/Tahrir naik segala macam angkutan jurusan ke Zamalik (ex. Bus No. 47, taxi, dll)&lt;br /&gt;- Turun di depan Maktabah Qahirah Kubra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.www.egyptlib.net.eg&lt;br /&gt;2.PMIK Guide Book Safari Perpustakaan 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-7175653317159913764?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/7175653317159913764/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=7175653317159913764' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/7175653317159913764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/7175653317159913764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/11/safari-perpustakaan-3.html' title='Safari Perpustakaan (3)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-1352141364039601498</id><published>2008-10-25T13:05:00.000-07:00</published><updated>2008-10-25T13:15:46.638-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedia'/><title type='text'>Safari Perpustakaan (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dârul Kutub wa al-Watsâ`iq al-Qaumiyyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori, dkk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Historiografi Singkat Darul Kutub dan Penamaannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Darul Kutub didirikan atas dekrit atau ketetapan Ali Pasha Mubarak, Menteri Pendidikan di masa pemerintahan Khedive Ismail, dengan surat keputusan tahun 1286 H/1870 M. Perpustakaan itu pada mulanya dibangun di lantai dasar ruang penguasa Musthafa Fadhil, saudara kandung Khedive Ismail, di ruas jalan al-Jamâmîz. Pengadaan perpustakaan itu dimaksudkan untuk menampung dan menghimpun manuskrip-manuskrip pribadi yang disimpan para pemimpin, penguasa, ulama’, dan para penulis yang berada dan tersebar di masjid-masjid serta pesantren.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seiring perkembangannya yang cukup pesat dan pertambahan koleksi buku yang semakin banyak, pemerintah akhirnya mendirikan sebuah gedung perpustakaan baru sekaligus sebagai museum (saat ini menjadi Museum Islam) di kawasan Bab el-Khulq. Gedung itu terdiri dari 3 lantai yang meliputi lantai dasar sebagai museum, sedangkan lantai 1 dan 2 sebagai perpustakaan. Setelah proses pembangunan gedung selesai pada tahun 1903 M, koleksi buku yang sebelumnya bedara di ruangan sempit Musthafa Fadhil itu dipindahkan ke sana, dan pada tahun 1904 M mulai dibuka juga gedung untuk para pengunjung dan pengguna perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logis dari pertambahan buku yang terus berlangsung menyebabkan gedung tersebut tak cukup menampung lebih banyak buku lagi. Akhirnya didirikan gedung baru lagi di kawasan Kurnisy Nil Ramlah Bulaq pada bulan Juli 1961 M. Selama kurang lebih 12 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973 barulah buku-buku dari Bab el-Khulq dipindahkan ke sana. Gedung baru ini dibuka secara resmi pada tahun 1977 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka proyek pengembangan perpustakaan, beberapa ruangan khusus di Darul Kutub mengalami pembaruan dan pelengkapan sarananya. Di antaranya adalah ruang penyimpanan berbagai macam manuskrip serta arsip-arsip yang dilengkapi dengan sarana tehnik modern, untuk memudahkan mekanisme para pengguna dalam melakukan penelitian dan pencarian bahan. Koleksi manuskrip Darul Kutub kurang lebih mencapai 57.000 manuskrip yang terdiri dari berbagai jenis kumpulan tema atau disiplin ilmu dengan taraf internasional. Di samping itu Darul Kutub juga menyimpan berbagai jenis kartu pos kuno serta majalah dan surat kabar Arab. Tidak cukup di situ, Darul Kutub juga kaya akan arsip-arsip penting negara yang meliputi surat tanda bukti wakaf, arsip dari berbagai lembaga kementrian yang beraneka ragam dan rekaman-rekaman dari Lembaga Peradilan, yang banyak dibutuhkan oleh banyak kalangan archeolog dan ahli purbakala. Yang menambah keunikan perpustakaan ini karena ia juga mengoleksi berbagai macam mata uang negara-negara Arab kuno yang tertanda tahun 77 H/696 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarahnya, perpustakaan ini sempat beberapa kali mengalami perubahan nama, antara lain yaitu:&lt;br /&gt;1.Dâr el-Kutub al-Khudawiy pada tahun 1911 M.&lt;br /&gt;2.Dâr el-Kutub al-Mishriy tahun 1927 M.&lt;br /&gt;3.Dâr el-Kutub al-Sulthâniy pada tahun 1961 M.&lt;br /&gt;4.Dâr el-Kutub wa al-Watsâ`iq al-Qaumiyyah (Perpustakaan Buku dan Arsip Nasional) tahun 1956.&lt;br /&gt;5.Al-Hay’ah al-Ammah li al-Kutub (Badan Umum Perpustakaan Nasional) tahun 1971 M.&lt;br /&gt;6.Al-Hay’ah al-Ammah li al-Kutub wa al-Watsâ`iq al-Qaumiyyah (Badan Umum Perpustakaan dan Arsip Nasional) tahun 1994 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Struktur Organisasi Badan Pengelola Perpustakaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.Kantor Pusat Perpustakaan, meliputi; &lt;br /&gt;•Kantor pelayanan membaca&lt;br /&gt;•Kantor urusan kesenian&lt;br /&gt;•Kantor urusan pertukaran percetakan&lt;br /&gt;•Kantor pelayanan perpustakaan&lt;br /&gt;2.Kantor Pusat Keilmuan, meliputi;&lt;br /&gt;•Pusat pelayanan, bibliografi dan aritmatika&lt;br /&gt;•Pusat renovasi, penjagaan dan mikro film&lt;br /&gt;•Pusat sejarah Mesir modern&lt;br /&gt;•Pusat otentifikasi dan verifikasi kitab turâts&lt;br /&gt;•Pusat penelitian pendidikan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Misi Direksi Pusat Perpustakaan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah Darul Kutub dikukuhkan sebagai sebuah Perpustakaan Nasional, ia menangani beberapa sektor penting yang antara lain adalah;&lt;br /&gt;1. mengumpulkan produktivitas pemikiran dan wawasan nasional dalam berbagai bentuknya yang bertujuan untuk mendefinisikan dan menjaganya untuk generasi mendatang;&lt;br /&gt;2. menyusun dan menyebarkan bibliografi nasional;&lt;br /&gt;3. mengumpulkan studi dan riset dari buku-buku yang telah terbit dan beredar di kalangan luas yang berkaitan dengan urusan negara, baik dari sisi politik, sejarah, ekonomi, dll;&lt;br /&gt;4. mengumpulkan cetakan yang disebarkan oleh sarana-sarana negara dan mendefinisikannya;&lt;br /&gt;5. pemilihan produksi internasional yang cocok di berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk mempermudah tela’ah terhadap bagian yang lain, yang mengantarkan pada ilmu pengetahuan manusia di berbagai disiplin dan mendefinisikannya;&lt;br /&gt;6.  pengumpulan kitab-kitab wawasan klasik Arab dan Islam (turâts), sebagai dasar dan gambaran serta mendefinisikannya meletakkannya atas biaya para pelajar. Khusus untuk jurnal, saat ini sudah dikomputerisasi, baik yang lama maupun yang baru;&lt;br /&gt;7. pembuatan unit katalog dan bekerja seperti pusat informasi nasional, serta pelayanan riset ilmu pengetahuan yang dikendalikan dalam sebuah profesionalisme ilmu;&lt;br /&gt;8. memasukkan daftar pustaka jurnal dan buku-buku berdasarkan penghitungan data, baik untuk jumlah yang lampau maupun edisi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menelisik Lebih Dekat ke Darul Kutub&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;1. Lantai pertama &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a. Kantor keamanan; bertanggung jawab memina identitas pengunjung dan peneliti serta menyerahkan surat izin masuk yang ditinggalkan di ruang penelitian;&lt;br /&gt;b. Pameran Darul Kutub; memuat kumpulan majalah dinding dan fatrien komentar Taufiq Hakim dan Abbas el Aqqad, Fatrien patung ibnu Sina, el Mutanabbi, ali Mubarak, Muhammad abduh, dan sebagian majalah dinding romantis Ahmad Syawqi, Qasim Amin, Raja Faruq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;2. Lantai Kedua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Mencakup Kantor Umum Urusan Kesesnian:&lt;br /&gt;1. Al-Tazwid (pendaftaran, pembelian, hadiah, langganan jurnal asing dan Arab, dan penyimpanan undang-undang)&lt;br /&gt;2. Al-Faharis (Daftar pustaka Arab, daftar pustaka Eropa, daftar pustaka Asia, dan bibliografi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ruangan Jurnal: Kamar nomor I&lt;br /&gt;Dilengkapi dengan jurnal-jurnal bahasa Arab dan Asing, baik umum maupun khusus dengan jumlah yang banyak dalam berbagai ilmu pengetahuan, seni dan pendidikan. Memberikansumbangsih peran yang besar atas pelayanan peneliti. Kantor jurnal memberikan pelayanan terhadap masyarakat umum dalam bentuk (pelayanan referensi, peminjaman dan foto copy) ketika diadakannya pameran jurnal-jurnal Arab dan Asing di waktu-waktu terbit sehingga memudahkan untuk para peneliti untuk menelaah dalam jangka waktu yang relatif singkat, sebagaimana disediakan untuk peminjaman. Dan sekarang komputerisasi jurnal lama maupun baru sudah terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;3. Lantai Ketiga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Ruang Utama untuk membaca: Kamar No. II&lt;br /&gt;Memberikan pelayanan terhadap para pembaca dan para peneliti terhadap sebagian besar kitab-kitab yang berbahasa Arab atau asing dari stok yang ada. Dan juru pengarah (guide) yang berada di ruangan memberikan pelayanan untuk membantu para peneliti agar memperoleh data-data buku yang dicari lewat daftar pustaka dan data-data yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ruang Musik: Kamar No III&lt;br /&gt;Di dalamnya terdapat CD, kaset, not musik dalam jumlah angka yang banyak. Ada juga kumpulan buku, referensi, ensiklopedia musik dalam jumlah yang besar. Terdapat juga kartu pustaka untuk mempermudah pencarian alat-alat audio, kaset maupun buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Ruang Kesenian: Kamar No IV&lt;br /&gt;Di dalamnya tersedia buku-buku dan referensi yang banyak dalam pelbagai judul seni (sejarah, bangunan, ukiran, gambar, hiasan, dekor). Disamping itu juga terdapat risalah (skripsi, tesis, dan desertasi) universitas yang disimpan di mikrofis di pelbagai spesifikasi seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;4. Lantai Keempat &lt;/span&gt;(Ruang Manuskrip): Kamar No V&lt;br /&gt;Di dalamnya terdapat manuskrip, papirus dan potongan seni yang tersedia dalam aturan susunan rak terkunci. Tredapat pula daftar pustaka yang membantu para peneliti untuk menemukan nomor manuskrip dan judulnya yang tersimpan dalam mikrofilm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;5. Lantai Kelima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Ruang Insaniyyât: Kamar No. VI&lt;br /&gt;Di ruangan ini terdapat kumpulan yang berharga, berupa referensi dan rujukan berbahasa Arab dan asing dalm pelbagai macam ilmu pengetahuan selain ilmu teknologi. Tersusun berdasarkan sistem dewey al asyar diatar rak-rak yangterbuka. Bagian riset kesenian memberikan pelayanann dalam bentuk jawaban dan penerangan atas pertanyaan yang dilontarkan lewat telepon, surat atau email. Diruangan tersebut juga terdapat terbitan-terbitan baru darul kutub, selebaran daftar buku (yang terdaftyar di ISBN) dan selebaran tambahan berbahasa Arab dan asing. Bagian ini pula yang mengeluarkan tiap bulan produk peikiran baru.&lt;br /&gt;Email bagian riset: referendeb@hotmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ruang Teknologi : Lkamar No VII&lt;br /&gt;Terdapat kumpulan pilihan referensi dan rujukan khusu dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dipamerkan pula katalog bku dan tambahan-tambahan yang memakai rak-rak terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Ruang PBB: Kamar No VIII&lt;br /&gt;Di ruangan ini terdapat seluruh cetakan dan dokumen yang diterbitkan oleh PBB berkaitan dengan perkembangan yang terjadi dalam segmen kehidupan (perekonomian, pembangunan, produksi, pertanian, dll) Semuanya bisa didapatkan di rak-rak terbuka, juga daftar pustaka khusu cetakan PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;6. Lantai keenam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Ruang Multi Media: Kamar No. IX&lt;br /&gt;Ruangan ini terdapat didalam kamar insaniyyat. Memberikan pelayana internet, kumpulan aset perpustakaan, mikrofilm, CD Room secara gratis bagi para pengguna. Begitu juga memberiakn pelayanan mikrosfis dari awal percetakan tahun 1514-1862 M. Selain kumpulan mikrofilm yang berkaitan dengan penggambaran Mesir, pendudukan Muslim dan sebagian tokoh nasioanal Mesir dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ruang miniatur Film Jurnal: Kamar No. X&lt;br /&gt;Di ruangan ini terdapat mikrofis dan mikrofilm jurnal yang telah selesai percetakannya (sepert al-Bashir, al Muqattham, al Muayyid, al Balaghah, al Wathan, Kawkab Syarq, al Tankit wa Tabkit, al Waqa’i al Misriyyah), demikian juga terdapat sejumlah jurnal yang disimpan dalam mikrofis yang dikirm dari Amerika serikat, denagn cara barter yang jumlahnya mencapai 3000 judul buku dan sebagian jurnal yang dikirim dari negara-negara Arab, tersedia pula layanan foto kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;7. Lantai Ketujuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A. Ruangan Perpustakaan al-Muhdah: Kamar No. XI&lt;br /&gt;Runagn ini mencakup perpustakaan orang-orang terkenal, para sestrawan dan para pemiir Mesir, seperti perpustakaan Abbas al-Aqqad, al-Taymuriyyah, al-Zakiyyah, Thal’at, aisyah Abdurrahman, Mahmud Badawi, yang memakai sistem rak-rak terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ruang Pustaka Khusus : Kamar No. XII&lt;br /&gt;Ruangan ini mencakup sejumlah perpustakaan yang berafiliasi ke Darul Kutub sejak istana kerajaan dan rumah-rumah para pemikir dan bangsawan setelah revolusi juli yang mencakup buku buku langka, manuskrip, peta, dan album seperti perpustakaan Yusuf Kamal, Istana Abidin, Putri Nazily, dan lain-lain ynag memakai sistem rak-rak terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;8. Situs Perpustakaan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Situs perpustakaan Darul Kutub terdiri dari maklumat maklumat tentang sejarah perpustakaan, kantor, administrasi, serta pelayanannya. Memungkinkan lewat web tersebut dapat memasuki web-web lain dai perpustakaan-perpustakaan nasional yang terkenal dan perpustakaan perpustakaan umum yang besar dalam skala internasioanal. Disamping itu juga tersedia pelayanan konsultasi dan menerima pembelian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan yang diberikan oleh ruangan-ruangan Darul Kutub:&lt;br /&gt;A.Memberikan jawaban langsung atas pertanyaan pertanyaan peneliti lewat data&lt;br /&gt;B.Memberikan jawaban tidak langsung lewat telpon, fax, surat, dan email&lt;br /&gt;C.Memberikan pelayanan internet dan CD di ruangan multi media secara gratis dan percetakan maklumat maklumat yang dipesan &lt;br /&gt;D.Memberikan pelayanan copy buku dan jurnal dengan harga yang sesuai&lt;br /&gt;E.Memberikan pelayanan copy jurnal dan manuskrip bergambar lewat mikro film dan awal cetakan bergambar lewat mikrofis di atas kertas&lt;br /&gt;F.Memberikan mikro film gambar gambar jurnal dan manuskrip dengan harga yang sesuai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;9. Loket Penjualan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat di bagian kanan pintu masuk bangunan di bagian tengah antar gedung dan Darul Watsaiq. Melayni penjualan cetakan tahqiq al turats dan bagian sastra, markaz watsaiq wa tarikh mishr al mu’ashir, cetakan cetakan yang jarang, juga melayani pnjualan daftar pustaka dan bibliografi khusu Darul Kutub selain buku-buku umum dan pelajaran&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jam Kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jam kerja berlangsung setiap hari selama satu pekan dengan perincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;•Jam 9 pagi s/d jam 7 sore (musim panas)&lt;br /&gt;•Jam 9 pagi s/d jam 6 sore (musim dingin)&lt;br /&gt;•Hari Kamis sampai dengan jam 3 sore&lt;br /&gt;•Libur Hari Jum’at dan hari-hari libur nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rute:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anda dari arah mana aja cari jurusan Tahrir;&lt;br /&gt;•Dari H-7 naik bis (375 coret Ac, 926, 700)&lt;br /&gt;•Dari H-8 naik bis (32 bus mini dan 600)&lt;br /&gt;•Dari H-10 naik bis )132 dan 30 mini bus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah sampai di terminal Tahrir, naik bis atau eltramco jurusan Qanathir Khairiyyah kira-kira meleati 3 mahatthoh anda akan melihat gedung Darul Kutub di sisi kanan anda. Di samping itu jika anda punya ongkos silahkan juga naik Taxi...hehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•http://www.eternalegypt.org &lt;br /&gt;•PMIK GUIDE BOOK Safari Perpustakaan 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-1352141364039601498?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/1352141364039601498/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=1352141364039601498' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/1352141364039601498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/1352141364039601498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/10/safari-perpustakaan-2.html' title='Safari Perpustakaan (2)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-1008219923903066430</id><published>2008-10-21T12:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T14:22:44.695-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Napak Tilas (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kota Tua Bersejarah; Menjelajah Kairo Fathimiyyah*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4zAWszzDI/AAAAAAAAAis/0EbNYoUpwq8/s1600-h/futuh2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4zAWszzDI/AAAAAAAAAis/0EbNYoUpwq8/s320/futuh2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259697496001858610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan yang sering kita dengar dari setiap pengunjung negeri Mesir cukup bervariasi, sesuai dengan obyek yang dituju serta latar belakang masing-masing pengunjung. Seorang pecinta sejarah mungkin akan mengatakan bahwa "Mesir kaya akan peradaban". Seorang pecinta ilmu akan berkata bahwa "Mesir adalah gudang ilmu", seseorang yang suka akan kedisiplinan mungkin akan mengatakan "Mesir itu semrawut dan serba tidak teratur", seorang pemerhati lingkungan akan berkata "Mesir negara yang kotor" dan masih banyak lagi ungkapan dan komentar yang sering kita dengar dari para pengunjung negeri seribu menara ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu bahwa setiap negara mempunyai sisi-sisi positif dan negatifnya. Mesir pun tidak lepas dari kedua penilaian tersebut. Banyak hal positif yang akan dapat kita jumpai di Mesir, demikian pula banyak hal negatif yang masih dapat kita temukan di mana-mana. Namun seorang mukmin harus cerdas dalam menentukan pilihan-pilihan, madu atau racunkah yang nantinya akan kita bawa pulang ke tanah air tercinta. Tentunya pilihan yang kita harapkan tidak jauh berbeda dengan niat yang kita ikrarkan ketika kita mulai melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman menuju negeri Mesir. Yaitu menuntut ilmu dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kita  kepada Sang Pencipta, Allah Swt. Adapun selebihnya, kita dapat memperluas cakrawala, memperkaya tsaqâfah dan mentadaburi sisa-sisa peninggalan sejarah “negeri tua” yang menyimpan segudang “mutiara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kemegahan khazanah intelektual yang termanifestasikan oleh banyaknya universitas, perguruan tinggi, lembaga-lembaga ilmiah, perpustakaan maupun tokoh-tokoh pemikir internasional, Mesir juga sangat kaya dengan beragam peninggalan sejarah dan peradaban. Jika sisi ilmiah itu telah jamak diketahui dan dapat dinikmati oleh kalangan internasional secara luas, tidak begitu dengan sisi yang lain; yaitu sisi sejarah dan bukti nyata hasil kretifitas anak manusia yang kala itu telah mencapai titik kejayaan luar biasa. Ya, hingga puluhan ribu mahasiswa yang berdatangan dari berbagai penjuru duniapun tampaknya belum banyak yang melirik ataupun tertarik untuk menelusuri “situs-situs mewah” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota seribu menara adalah julukan yang akrab disandangkan untuk ibu kota negeri Mesir, Kairo. Namun julukan yang telah familiar itu apakah telah dibuktikan secara nyata oleh para pengunjung, terlebih para mahasiswa yang cukup lama bermukim di atas buminya? Panorama masjid-masjid berkubah yang tetap gagah dan tak goyah walau diterpa angin dan badai. Bangunan-bangunan kuno yang masih lestari dengan segenap legendanya. Kairo sungguh kaya dan semakin lengkap dengan itu semua. Sebuah pesona pemandangan klasik yang mampu memberikan gambaran utuh sejarah kegemilangan masa lampau. Kairo dengan beragam masjid tua yang tak lekang dimakan usia, Kairo dengan benteng-benteng perkasanya yang mengisahkan semburat keberanian perjuangan. Maka dengan itu, marilah kita sejenak melakukan safari budaya, menelusuri secuil dari kekayaan peninggalan sejarah itu, di sebuah kawasan eksotik Mesir, Kairo Fathimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan itu sejatinya terletak tidak begitu jauh dari pusat aktifitas perkuliahan  mahasiswa al-Azhar Fakultas Ilmu-Ilmu Agama, Husein-Darrasah. Meskipun demikian, tidak banyak dari para mahasiswa yang mau atau tertarik untuk menelusuri situs-situs bersejarah itu. Entah apakah karena ketidaktahuan mereka, atau karena memang sengaja dan merasa tak perlu mengenalinya secara lebih dekat. Padahal jika kita mau menelusuri Kairo secara detail dan lengkap, niscaya akan kita temukan pesona indahnya, yang mengilhami kekayaan batin yang tak terperikan.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Tidak jauh dari kawasan Darrasah ada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bab el-Nashr”&lt;/span&gt; yang merupakan salah satu gerbang dari beberapa gerbang benteng yang terdapat di kota Kairo. Jika ditempuh dari arah Madinatul Bu’uts al-Azhar, gerbang itu dapat ditemukan berhadapan dengan lahan pekuburan yang terletak di pinggiran jalan menuju Bab el-Sya’riyyah, belokan ke kanan pojokan area pekuburan para ruas jalan menuju arah Darrasah. Gerbang itu termasuk salah satu bangunan perang (benteng pertahanan) di masa Dinasti Fathimiyyah. Ia berbentuk persegi empat yang kokoh karena dibangun dari bebatuan balok ukuran besar. Akhirnya tersusunlah sebuah gerbang dengan ukuran lebar sisi depan 24,22 meter, dengan ketebalan 20 meter dan ketinggian 25 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bab el-Nashr”&lt;/span&gt; kita akan menemukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bab el-Futuh”&lt;/span&gt; yang juga didirikan pada masa Dinasti Fathimiyyah atas perintah Jauhar as-Siqly, dan selesai disempurnakan pada masa pemerintahan Badr al-Gamaly tahun 480 H/1087 M yang kini dapat kita temukan terletak di samping Masjid al-Hakim bi Amrillah. Bab (gerbang/pintu) ini terdiri dari dua menara silinder yang mengapit pintu masuknya. Guna memperingkas ruang, dalam tulisan kali ini kita akan memilih “Bab el-Futuh” sebagai pintu masuk menelusuri beberapa sudut bersejarah Kairo Fathimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memasuki “Bab el-Futuh” kita akan menjumpai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Masjid al-Hakim bi Amrillah”&lt;/span&gt; yang terletak berdampingan dengannya. Masjid ini dibangun tahun 380 H/990 M pada masa pemerintahan al-Aziz Billah al-Fathimy, raja kedua Dinasti Fathimiyyah. Al-Aziz Billah sendiri adalah putra dari al-Mu'iz Lidinillah, raja pertama Dinasti Fathimiyyah yang berasal dari Maroko. Namun beliau telah meninggal sebelum pembangunan masjid ini selesai, hingga akhirnya disempurnakan oleh putranya al-Hakim bi Amrillah, raja ketiga Dinasti Fathimiyyah, pada tahun 403 H/1013 M. Maka masjid ini dinisbatkan kepadanya, karena dialah yang meneruskan dan menyempurnakan pembangunan masjid ini.&lt;br /&gt;Masjid al-Hakim bi Amrillah adalah masjid kedua yang dibangun pada masa Dinasti Fathimiyyah di Mesir, yang sebelumnya telah membangun Masjid al-Azhar. Dan Masjid ini juga merupakan pusat ilmu kedua setelah Masjid al-Azhar pada masa Dinasti Fathimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masjid, terdapat sumur yang airnya hingga saat ini masih mengalir dan dipakai untuk berwudhu. Menurut keterangan petugas masjid dan penilik benda-benda bersejarah Mesir, air yang dihasilkan dari sumur tersebut rasanya mirip dengan Air Zam-Zam. Di Masjid ini juga terdapat dua mihrab. Mihrab yang pertama dibangun pada masa Dinasti Fathimiyyah, yang bercirikan tertulis Muhammad wa Ali (Muhammad dan Ali) karena semaraknya madzhab Syi’ah pada masa itu. Dan mihrab yang kedua dibuat pada Dinasti Mamalik, yang letaknya di samping Mihrab Fathimiyyah. Masjid ini merupakan masjid terluas kedua di Kairo setelah Masjid Ibnu Thulun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari Masjid al-Hakim bi Amrillah kita dapat melanjutkan perjelajahan menyusuri jalanan yang cukup semrawut dengan aroma kunonya di beberapa bangunan sekelilingnya.  Obyek penting selanjutnya adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bait el-Suhaemy”&lt;/span&gt;. Ia merupakan salah satu rumah peninggalan bersejarah di Mesir yang menyimpan berbagai keistimewaan khusus di dalamnya. Maka tidak heran jika para wisatawan manca negara hadir untuk menyaksikan rumah bersejarah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait el-Suhaemy terhitung sebagai salah satu tempat berziarah atau tempat berkunjung terkenal yang menghadirkan satu contoh tersendiri dari berbagai corak arsitektur bangunan tempat tinggal khusus, bahkan ia juga terhitung sebagai satu-satunya rumah ideal yang menghadirkan keindahan bangunan Islam pada masa Utsmaniyyah di Mesir.   Adapun rahasia dari penamaan yang langka ini terkembali pada bani/keluarga terakhir yang tinggal di dalamnya. Yaitu  keluarga Syeikh Muhammad Amin al-Suhaemy yang merupakan Syeikh Ruwâq al-Atrâk di al-Azhar al-Syarîf dan beliau meninggal pada tahun 1928 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait el-Suhaemy dibangun pada masa Dinasti Utsmaniyyah tahun 1648 M oleh Syeikh Abdul Wahab at-Thablawy. Pembangunan rumah ini dilaksanakan dalam beberapa tahap hingga akhirnya jadi seperti yang masih ada saat kini. Bait al-Suhaemy terdiri dari dua bagian. Pertama adalah bagian selatan yang didirikan oleh  Syeikh Abdul Wahab at-Thablawy tahun 1058 H – 1648 M. Kedua adalah bagian utara yang didirikan oleh Ismail bin Syalby pada tahun 1211 H – 1796 M, lalu dua bagian ini akhirnya ia gabungkan menjadi satu. Pada tahun 1931 M, pemerintah Mesir membeli rumah ini dari para pewarisnya dengan harga 6.000 Pound Mesir, dan menghabiskan 1000 Pound untuk melakukan perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat singgah di halaman Bait al-Suhaemy, kita bisa melanjutkan perjalanan melewati beberapa masjid kuno yang menampakkan kegagahan bangunannya. Beberapa di antaranya adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madrasah dan Masjid Kamiliya&lt;/span&gt; (1180 – 1238 M), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masjid al-Aqmar&lt;/span&gt; (1125 M), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madrasah dan Masjid Barquq&lt;/span&gt; (1386 M), hingga akhirnya sampai pada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masjid Sayyidna Husain&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masjid al-Azhar&lt;/span&gt; (970 M). Ketiga masjid yang disebutkan terakhir itu tergolong masjid-masjid besar yang ada di Kairo. Masjid Barquq sendiri jika kita amati secara lebih dekat akan menampakkan kemegahan dan kekokohannya, dengan kedua menaranya yang menjulang tinggi mencakar langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Masjid Husain adalah semacam masjid Istiqlal-nya Jakarta, yang merupakan masjid Jami’ resmi pemerintahan. Ia termasuk masjid tertua Mesir yang dibangun pada tahun 1154 M, terletak di dekat sebuah pasar masyhur Khan el-Khalily. Masjid ini dianggap sebagai salah satu situs suci Islam di Kairo, yang dibangun di atas pekuburan para khalifah Dinasti Fathimiyyah, sebuah fakta yang baru ditemukan kemudian setelah dilakukan proses penggalian. Di dalam masjid terdapat sebuah makam yang diyakini sebagai tempat di mana kepala Sayyidina Husain dikuburkan, yang masih dapat kita temui hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang masjid al-Azhar, yang sudah sangat familiar di kalangan mahasiswa, juga merupakan peninggalan Dinasti Fathimiyyah yang menyimpan segudang sejarah. Ia adalah masjid pertama Dinasti Fathimiyyah, yang juga difungsikan sebagai pusat pengkajian ilmu-ilmu agama. Sebelum akhirnya menganut madzhab Sunni, konon masjid al-Azhar dikuasasi oleh orang-orang Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari masjid al-Azhar, dengan menelusuri sepanjang jalan Husain ke Arah Attaba kita akan menemukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Bab Zuwayla”&lt;/span&gt;.   Terletak tidak jauh sebelum Bab Zuwayla terdapat sebuah masjid besar yang dikenal dengan sebutan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Red Mosque"&lt;/span&gt;. Ia adalah &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Masjid al-Muayyad”&lt;/span&gt; yang didirikan oleh sultan al-Muayyad dan selesai dibangun pada tahun 1422 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Bab Zuwayla, ia merupakan salah satu gerbang terbesar di Kairo yang didirikan pada tahun 485 H – 1092 M. Ia dikenal juga dengan sebutan “Bawwabah al-Mutawally” (gerbang al-Mutawally). Pintu gerbang Zuwayla dahulu pernah menjadi sejarah tempat pelaksanaan hukuman gantung pertama di Mesir. Pintu ini dikenal dengan pintu Mutawally karena dinisbatkan kepada seorang ahli ibadah dan orang shaleh terkenal yang bernama Syaikh Mutawally. Syaikh Mutawally terkenal mempunyai banyak karamah, di antaranya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, khususnya sakit gigi, dengan cara pengobatan yang tentu sangat berlainan dengan ahli lainnya. Di pintu ini kita juga akan menyaksikan banyak gigi serta rantai yang dahulu dipakai untuk menggantung orang jahat. Setelah mengalami perbaikan selama kurang lebih 900 tahun, Bab Zuwayla yang merupakan peninggalan bersejarah Dinasti Fathimiyyah kembali diresmikan dan dibuka pada hari Ahad tanggal 14 September 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terletak sekitar 100 meter di depan Bab Zuwayla terdapat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Masjid  al-Shalih Thala'i”&lt;/span&gt; yang dibangun pada tahun 1160 M oleh amir Shalih Thala'i bin Razik. Masjid ini dibangun dengan bentuk memanjang di atas bangunan bawah tanah. Maka masjid ini dijuluki sebagai salah satu masjid gantung atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“masâjid al-mu'allaqah”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit penelusuran di beberapa ruas Islamic Cairo yang terdapat di sekitar kawasan Kairo Fathimiyyah. Sebagaimana yang tercatat di bagian atas tulisan ini, Kairo terlalu kaya dengan peninggalan sejarah dan kebudayaannya, sehingga tidak dapat kita jelajahi dalam waktu sekejap mata. Tentunya kita akan membutuhkan cukup tenaga, waktu maupun biaya untuk dapat mengakrabi kota Kairo secara detail, lengkap dengan data-data sejarahnya. Maka selamat membaca, menjelajah dan mencicipi aroma kekayaan sejarah sang kota tua, kota seribu menara!.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Untuk melihat foto-foto kawasan Kairo Fathimiyyah, silahkan buka &lt;a href="http://gerbang-galery.blogspot.com"&gt;di sini!&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-1008219923903066430?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/1008219923903066430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=1008219923903066430' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/1008219923903066430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/1008219923903066430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/10/napak-tilas-1.html' title='Napak Tilas (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4zAWszzDI/AAAAAAAAAis/0EbNYoUpwq8/s72-c/futuh2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-5076267667567029587</id><published>2008-10-19T11:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T11:51:44.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alam Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ensiklopedia'/><title type='text'>Safari Perpustakaan (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4jXPVK6DI/AAAAAAAAAiM/Ut7wp-9sTpQ/s1600-h/IMG_0962.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4jXPVK6DI/AAAAAAAAAiM/Ut7wp-9sTpQ/s200/IMG_0962.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259680296974608434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Maktabah al-Azhar al-Syarief&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori, dkk.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak awal kaum muslimin sangat intens terhadap buku dan perpustakaan. Karena buku (baca: kitab) merupakan mu’jizat teragung nabi mereka, Muhammad Saw. Ayat al-Quran yang pertama kali turun pun menyinggung urgensitas ilmu pengetahuan dan membaca. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Iqra` bi ismi rabbika alladzi khalaq. Khalaqa al-insâna min ‘alaq. Iqra` wa rabbuka al-akram. Alladzî ‘allama bi al-qalam”.&lt;/span&gt;(QS. al-Alaq: 1-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ayat al-Qur’an tadi Nabi Muhammad Saw. juga bersabda: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barang siapa menempuh sebuah jalan dalam rangka untuk mencari ilmu niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”.&lt;/span&gt;(H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari prinsip itulah masjid-masjid kaum muslimin pada zaman dahulu, di samping sebagai tempat beribadah juga dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan mengkaji ilmu-ilmu agama. Masjid–masjid itu berperan meningkatkan ranah keilmuan, di samping aspek ruhaniah. Sejarah telah mencatat, baik di barat maupun di timur, bahwa perhatian kaum muslimin terhadap buku sangat tinggi, mengingat nilai pentingnya sebuah ilmu. Untuk itulah para pembesar kaum muslimin dan punggawanya sangat memperhatikan pengumpulan buku dan penghimpunannya. Mereka mengerahkan segala daya dan upaya yang besar demi melakukan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perpustakaan al-Azhar Lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan al-Azhar yang ada sekarang ini bukanlah seperti yang ada dahulu, sebagaimana yang sering dikatakan oleh para sejarawan. Akan tetapi perpustakaan baru yang kini ada adalah jelmaan dari reruntuhan sejarah perpustakaan lama. Perpustakaan al-Azhar -baik yang lama ataupun baru- tidak banyak mendapat perhatian sejarawan secara khusus. Ini tidaklah aneh, karena al-Azhar sendiri pun belum mendapatkan perhatian yang layak dan sesuai dengan nama besarnya sebagai pengemban misi keilmuan selama lebih dari seribu tahun. Perhatian itu baru muncul setelah adanya usaha beberapa penulis pada beberapa abad terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya sumber-sumber sejarah hanya menyebut perpustakaan al-Azhar lama sebatas sebagai pengetahuan global saja. Itu pun tak lebih dari hanya sekadar mereportase ucapan Ibnu Muyassar dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Akhbâr Mishr”&lt;/span&gt; tahun 517 H. Dalam buku itu dikatakan bahwa seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dâ’i al-du’ât&lt;/span&gt; yang bernama Abu al-Fahr Shâlih memangku jabatan sebagai Khatîb di Masjid al-Azhar sekaligus mengurusi perpustakaan masjid tersebut. Hal ini tentunya mengisyaratkan pentingnya perpustakaan al-Azhar, sampai-sampai kepengurusannya diembankan kepada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;dâ’i al-du’ât&lt;/span&gt; (petinggi agama yang kedudukannya sederajat lebih rendah dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;qâdhi qudhât&lt;/span&gt;) sejak akhir abad ke-5 Hijriah. Pada masa itu gubernur Mesir memerintahkan supaya sebagian buku yang berada di Dâr al-Hikmah dipindahkan ke masjid al-Azhar. Jumlah buku yang ada pada masa itu mencapai lebih dari 50.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika orang-orang Perancis melancarkan invasi ke Mesir dan berhasil merobohkan masjid al-Azhar, mereka juga merampas banyak buku yang ada di sana yang kemudian membawanya ke perpustakaan Paris. Buku-buku tersebut kini menjadi kebangaan tersendiri bagi perpustakaan Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Perpustakaan al-Azhar Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan al-Azhar baru termasuk perpustakaan terbesar kedua di Mesir setelah Dâr el-Kutub karena menyimpan banyak sekali koleksi buku dan manuskrip klasik pada abad-abad awal Hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sistem yang diterapkan al-Azhar pada masa lampau adalah apa yang mereka sebut sebagai sistem arwiqah; yaitu merupakan gedung-gedung yang dihuni mahasiswa asing yang meninggalkan negara mereka guna menuntut ilmu. Peredaran buku-buku yang ada di gedung tersebut tidak seperti yang lazim berlaku di perpustakaan-perpustakaan. Pemanfaatan perpustakaan pada waktu itu berada di bawah aturan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syaikh ruwaq&lt;/span&gt; yang bertugas menjaga dan merawat buku-buku yang ada di perpustakaaan. Jumlah ruwaq yang ada di masjid al-Azhar ketika itu mencapai sekitar dua puluh tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa masjid dan sekolah kuno pada masa itu kebanyakan memiliki perpustakaan seperti ini. Buku-buku yang ada di dalamnya sering hilang di tangan peminjam yang tidak bertanggungjawab. Hal inilah yang mendorong Syaikh Muhammad ‘Abduh, Mufti Mesir ketika itu, untuk mengusulkan dibangunnya perpustakaan baru, yang kemudian disetujui oleh Dewan Administrasi al-Azhar dan pembangunannya dilaksanakan pada awal Muharram 1314 H/1897 M. Selanjutnya buku-buku yang sebelumnya berada di arwiqah dipindahkan ke satu tempat khusus. Kala itu mereka mengalami kesulitan dalam proses penyalinan dan perbaikan manuskrip yang ada karena telah banyak yang rusak. Para pegawai dan anggota majlis saat itu secara langsung ikut menyunting berbagai buku tersebut yang kemudian diklasifikasikan ke dalam berbagai varian disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya berhenti sampai di sana saja, Syaikh Muhammad ‘Abduh juga menghimbau pembesar dan pemuka agama supaya menghibahkan buku-buku mereka. Ajakan Syaikh Muhammad ‘Abduh rupanya tidak hanya bertepuk sebelah tangan. Banyak di antara mereka yang menyambut inisiatif Muhammad ‘Abduh seperti Syaikh Hasunah al-Nawawi (Syaikh al-Azhar saat itu) yang menghibahkan perpustakaannya. Selainnya juga datang dari ahli waris Sulaimân Bâsyâ serta pembesar al-Azhar lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Koleksi Perpustakaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana perpustakaan lain, perpustakaan al-Azhar tumbuh bersama berjalannya zaman. Yang awalnya kecil, tidak memiliki banyak koleksi menjadi bertambah kuantitas dan jenis buku-buku yang ada di sana. Faktor pendorong bertambahnya koleksi itu antara lain adalah maraknya percetakan, di samping juga hibah dan pembelian buku-buku baru. Di antara buku-buku itu antara lain: berbagai jenis Mushaf, disiplin ilmu Hadits, Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul al-Fiqh, Fiqh, Nahwu, Sharaf, Balaghah, Mantiq, Tasawwuf, Matematika, Kedokteran, dan lain-lain yang mencapai lebih dari 128.500 buku,, yang terangkup dalam 63 disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, perpustakaan al-Azhar juga memiliki beberapa koleksi antik yang sulit ditemukan di berbagai perpustakaan lain. Di antara buku-buku langka itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dua buah mushaf ditulis tahun 465 H, satu manuskrip mushaf ditulis tahun 528, dan satu manuskrip mushaf ditulis tahun 741 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Al-Ri’âyah li tajwîdi al-Qirâ`ât wa Tahqiqi Lafdzi al-Tilâwah”&lt;/span&gt; ditulis tahun 757 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Al-`Âlî al-Fâridâh fi Syarhi al-Qashîdah”&lt;/span&gt; ditulis tahun 735 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ibrâzu al-Ma`âni min Hirzi al-Amâni"&lt;/span&gt; ditulis tahun 706 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Syarh al-Syathibiyyah”&lt;/span&gt; li-al-Ja`bari ditulisa tahun 839 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tafsir Gharîbu al-Quran li al-Sajastâni”&lt;/span&gt; ditulis tahun 514 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tafsir Surat al-Fâtihah li al-Iqlîsyi”&lt;/span&gt; ditulis tahun 627 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al-Kassyâf li al-Zamakhsyari”&lt;/span&gt; ditulis tahun 654 H (naskah asli penulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Gharîb al-Hadits li Ibni Salâm”&lt;/span&gt; ditulis tahun 311 H, Juz Keempat dari Musnad Abi `Awânah ditulis 617 H, Juz Satu dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al-Ilmâm fî Ahâdîtsi al-Ahkâm li Ibni Daqîq al-Îd”&lt;/span&gt; ditulis tahun 736 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“`Umdatu al-Thâlibîn” &lt;/span&gt;li Ibni al-Wazîr ditulis tahun 603 (naskah asli penulis), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Zâdu al-Mulk”&lt;/span&gt; li Ibni al-Mudzaffir ditulis tahun 860 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tafdhîlu `Aqdi al-Farâidh”&lt;/span&gt; li Ibni al-Syuhnah tahun 596 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Rusûm al-Khilâfah”&lt;/span&gt; li al-Shâbî ditulis tahun 455 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mu`jam Mâ Ista`jama li al-Bakrî fî Taqwîmi al-Buldân”&lt;/span&gt; ditulis tahun 596 H, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“al-Mu`jam al-Mu`assis li al-Mu`jam al-Mufahris”&lt;/span&gt; li Ibni Hajr, yang merupakan mu`jam nama-nama Syaikhnya ditulis tahun 829 H (naskah asli penulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keistimewaan Perpustakaan Al-Azhar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan al-Azhar memiliki keistimewaan tersendiri dengan melimpahnya buku-buku yang membahas ilmu-ilmu Arab dan keagamaan secara mendetail. Hal ini bisa dilihat di dalam koleksi berbagai disiplin ilmu yang ada. Hal itu maklum, karena buku-bukunya kebanyakan didapatkan dari perpustakaan para `ulama dan pemberian orang-orang dermawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara keistimewaan perpustakaan al-Azhar adalah tersedianya manuskrip-manuskrip yang dijadikan bahan penelitian bagi para mahasiswa yang jarang sekali didapatkan di berbagai perpustakaan lain. Di samping juga cetakan buku yang ada yang secara global mencapai 128.500 koleksi (buku maupun manuskrip).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Misi Perpustakaan al-Azhar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi yang diemban perpustakaan al-Azhar adalah membantu peneliti, penulis tesis maupun disertasi, dan masyarakat umum dalam mendapatkan referensi yang tidak didapatkan di perpustakaan-perpustakaan lain. Dan tujuan itu semua hanya satu: “mentransformasikan ilmu, budaya dan pengetahuan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jam Kerja:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maktabah al-Azhar buka setiap hari mulai pukul 10.00 s/d 14.00 CLT, kecuali hari Jum’at dan Sabtu, dan hari-hari libur nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rute:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mahasiswa al-Azhar yang pernah mengajukan Tholab Musa’adah ke Jam’ittah Syar’iyyah atau mengajukan Tholab Minhah ke Idarah Masyikhah Azhar pasti sudah tak asing lagi dengan Perpustakaan al-Azhar, karena ia terletak diapit oleh Masyikhah al-Azhar dan Jam’iyyah Syar’iyyah. Hehehehe…[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Referensi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;· Al-Lamhât al-Syadhiyyah ‘an al-Maktabah al-Azhariyyah, karya Dr. Ahmad Khalifah Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-5076267667567029587?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/5076267667567029587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=5076267667567029587' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/5076267667567029587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/5076267667567029587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/10/maktabah-al-azhar-as-syarief.html' title='Safari Perpustakaan (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4jXPVK6DI/AAAAAAAAAiM/Ut7wp-9sTpQ/s72-c/IMG_0962.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-3666608070916357027</id><published>2008-10-04T18:07:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T11:37:23.707-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel Lepas'/><title type='text'>Sebuah Potret (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Mengadili” Sense of Politic??*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, dalam satu waktu dan keadaan yang sama, adalah seorang mahluk penyendiri/individu dan mahluk sosial. Sebagai mahluk individu, ia senantiasa melindungi keberadaannya, mempertahankan eksistensinya, dan yang terpenting untuknya adalah memuaskan keinginan pribadinya, dan mengembangkan bakat serta minatnya. Sebagai mahluk sosial, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh pengakuan dari masyarakat sekitarnya, dicintai oleh sesama manusia, untuk saling berbagi kebahagiaan, membuat mereka nyaman dikala tumbuh kesedihan, menjadi penyemangat dalam lemahnya keputus-asa-an, dan juga untuk meningkatkan taraf hidup.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, eksistensi dari hal-hal tersebut sangat berkaitan, bahkan bertentangan, tergantung pada karakter pribadi manusia. Kombinasi khusus tersebut menentukan sampai sejauh mana seseorang dapat mencapai keseimbangan individu dan tetap memberikan sumbangsihnya bagi kehidupan masyarakat. Sangat dimungkinkan bahwa, kedua kekuatan ini, terutama dapat digabungkan karena memang telah melekat pada dirinya. Akan tetapi, kepribadian yang pada gilirannya muncul sebagian besar karena terbentuk; oleh pengaruh lingkungan dimana manusia tersebut tumbuh dan berkembang, struktur masyarakat dimana ia dibesarkan, budaya dari masyarakat, dan oleh penghargaan yang diperolehnya atas tingkah laku serta perbuatan tertentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsepsi abstrak “masyarakat” bagi manusia perseorangan adalah keseluruhan hubungan langsung maupun tidak langsung atas masyarakat yang hidup pada masa yang sama atau sebelumnya. Individu tertentu dapat berpikir, berkreasi, merasakan, berjuang dan bekerja oleh dan untuk dirinnya sendiri. Akan tetapi, sebenarnya ia juga tergantung pada masyarakat, -baik secara fisik, intelektual, emosional- sehingga sangat sulit memahami dan memikirkannya di luar kerangka masyarakat. Adalah masyarakat yang menyediakan manusia dengan makanan, pakaian, rumah, perkakas, bahasa, pola pikir, dan hampir semua isi pemikirannya. Hidupnya menjadi nyata setelah bekerja dan berhasil sukses sejak jutaan tahun lampau, dan hingga kini dimana semua hal tersebut tersembunyi di balik sebuah kata, “masyarakat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal itu adalah bukti, karenanya, ketergantungan seseorang terhadap masyarakat adalah fakta alamiah yang tidak dapat dihilangkan. Senada dengan pernyataan di atas, Aristoteles, seorang ahli filsafat Yunani, lebih jauh ia juga menyatakan bahwa; manusia, selain sebagai mahluk pribadi, juga sebagai mahluk sosial dan mahluk politik (zoon politicon). Manusia tidak dapat hidup sendiri, namun senantiasa membutuhkan keberadaan orang lain. Aristoteles tentu saja mendasari pemikirannya dari analisisnya terhadap realitas manusia pada zamannya. Bahwa, memang manusia secara fitrahnya membutuhkan keberadaan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa akhirnya harus menjadi politisi (mahluk politik, red) juga? Karena kita adalah manusia, dan menurut Aristoteles dalam definisi klasiknya tentang politik menyebutkan bahwa, politik adalah master of science, karena manusia hidup tidak pernah lepas dari politik. Manusia adalah mahluk politik (sama dengan “natural born” politisi?), sehingga ilmu pilitik adalah sebuah kunci untuk memahami lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Aristoteles, tentunya telah ada dan berkembang banyak sekali definisi tentang politik. Harold Laswell dengan definisi politik itu adalah siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana. Ada juga yang mendefinisikan politik sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tentang negara menyangkut institusi, hukum dan prosesnya. Selanjutnya politik sebagai the art of possible, lalu politik sebagai kepentingan atau konflik, kemudian politik sebagai sebuah kekuatan (power)/kekuasaan dan karenanya harus dipertahankan (sampai titik darah penghabisan??) . Nampaknya definisi terakhir tentang politik di atas (sebagai kekuasaan), lebih mudah dipahami dan dimengerti secara riil ketimbang yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, dalam perjalanan hidupnya, sejak kecil hingga dewasa, sesungguhnya senantiasa melakukan praktek “berpolitik”, entah disadarinya maupun tidak. Pada masa kanak-kanak; seorang ‘bocah’ sering menangis untuk mendapatkan pembelaan Mama dan Papa ketika sedang berkelahi dengan saudaranya. Ngambek dan mogok makan supaya dibelikan mainan atau diperbolehkan untuk melakukan sesuatu. Pada masa puber; seorang remaja mulai melakukan serangannya untuk menjalin hubungan dengan orang-orang signifikan di sekolah seperti satpam, tukang parkir, tukang foto copy, ibu kantin untuk mempermudah banyak hal. Pada masa kuliah; para mahasiswa berbondong membina pertemanan baik dengan para pegawai TU supaya di saat-saat genting pengumpulan tugas bisa mendapatkan tambahan sedikit waktu. Dengan dosen-dosen yang tentunya untuk transfer ilmu mereka dan transfer proyek untuk menambah pengalaman, atau supaya bisa menggolkan lebih dari 20 SKS dalam satu semester supaya cepat kuliah. Demikian beberapa contoh “fitrah berpolitik” manusia, dan seterusnya, dalam setiap fase kehidupan seseorang, ia akan senantiasa melakukan praktek-praktek politik untuk memudahkan urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian mengakar ternyata potensi manusia untuk “berpolitik”. Maka tak ayal jika pada zaman sekarang ini, berbagaimacam bentuk dan fariasi politik dapat kita jumpai dengan mudah di mana-mana. Terma “politik” sendiri, bagi beberapa kalangan masyarakat awam, masih dianggap sebagai sebuah momok, yang senantiasa memberikan sense negative dalam pandangan mereka. Politik sering diasosiasikan dengan kata kotor, kejam dan culas, yang membuat mereka yang mendengarnya menjadi jijik. Hal itu nampaknya dipengaruhi oleh ketidaktahuan mereka akan arti politik secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, tingkat kesadaran dan atau pengetahuan masyarakat Indonesia dalam hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak politik masih sangat rendah. Survei yang dilakukan The Asia Foundation pada tahun 2003, sebelum pemilu 2004 yang menghasilkan SBY sebagai presiden menemukan bahwa; 55% dari 1.056 random representative sample di 32 propinsi Indonesia menyatakan tidak mengetahui arti negara demokrasi yang sebenarnya. Mereka belum memahami signifikansi negara demokrasi bagi pemenuhan hak-hak politik, sebagaimana pula mereka tidak mengetahui cara mengartikulasikannya dalam kehidupan politik yang demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan hasil survei tersebut, kenyataan yang ada menjadi tidak aneh jika mereka memilih partai politik bukan karena program serta visi dan misi yang jelas, atau sebab hal itu akan dapat membawa keadaan menjadi lebih baik. Namun mereka memilihnya karena sekedar partai itu adalah partainya (19%), faktor pemimpinnya –bukan kepemimpinannya- (14%), atau sekedar partai islam (10%), dimana sebagian besar mereka ini (55%) tidak memahami apa yang mereka harapkan untuk dapat dilakukan oleh partai islam tersebut. Yang lebih ironis lagi, sebanyak (14%) mereka tidak tahu alasan memilih partai, dan (14%) sisanya sudah lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data penelitian itu, serta didukung fenomena yang berkembang saat ini menorehkan secara jelas tentang minimnya pengetahuan mereka tentang hak-hak politik. Pilihan dan dukungan mereka terhadap partai politik bukan didasarkan pada alasan-alasan rasional untuk penggunaan hak-hak politik, tapi merujuk pada alasan yang sangat kental dengan watak sektarianisme, taqlid buta dan sejenisnya. Dalam kondisi yang cukup memprihatinkan ini, negara dan pemerintah yang benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat tentunya sulit untuk diwujudkan dalam dunia konkrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, dengan semakin maraknya partai-partai politik yang bermunculan, baik dalam ranah ke-indonesia-an maupun dunia global pada umumnya, dengan tanpa diiringi pengetahuan dan pemahaman yang seimbang oleh masyarakat, tentunya akan lebih mempersulit perwujudan dan pemulihan stabilitas keamanan serta perbaikan sebuah tatanan pemerintahan. Setiap orang maupun golongan, kini bebas mendirikan partainya masing-masing (walaupun dengan syarat-syarat tertentu pastinya), entah itu yang praktis maupun pragmatis dan sejenisnya. Yang jelas setiap komponen tersebut akan selalu meng-klaim bahwa dirinyalah yang paling benar dan akan senantiasa berusaha untuk mempertahankan kekuasaan dan eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja telah jauh bergeser dari asas serta nilai yang terkandung dalam fungsi sebuah organisasi tertentu. Pencapaian kehidupan yang mencerminkan nilai rahmatan lil ‘alamin serta perwujudan civil sosiety yang harusnya dikembangkan dan dilabuhkan secara konkrit di bumi pertiwi seakan hanya menjadi utopia yang nyaris sulit diraih dalam realitas kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua itu, yang harus segera dilakukan untuk dapat memakmurkan dunia dan menyejahterakan masyarakat adalah mensterilkan agama dari tarikan-tarikan politik paktis dan pragmatis. Para agamawan bersama para elite politik memiliki kewajiban untuk mengembalikan agama ke ranahnya yang asal dan genuine sebagai sumber nilai dan etika-moral universal. Dalam posisi semacam itu, agama diharapkan dapat membumikan misi pencerahan atas umat manusia. Potret manusia dalam bingkai politik, untuk dapat mewujdkan keseimbangan kosmos, yang telah menjadi fitrahnya sejak bayi senantiasa harus dibangun dan dipupuk di atas asas maslahah ‘ammah dan rahmatan lil alamin, bukan pemenuhan atas nafsu dan kepentingan pribadi. Wallahu a’lam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;*) Tulisan ini di-publish-kan untuk Diskusi Cyber Perdana Glafeesa , dan pernah dimuat dalam Majalah “Afkar”, PCINU Mesir, edisi XXXVII, 15-30 Februari 2007.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-3666608070916357027?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/3666608070916357027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=3666608070916357027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/3666608070916357027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/3666608070916357027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/10/sebuah-potret-1.html' title='Sebuah Potret (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-5127754828579052286</id><published>2008-10-03T05:47:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T11:32:03.825-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kaji Tokoh Tafsir'/><title type='text'>Kaji Tokoh Tafsir (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4dtKNkhUI/AAAAAAAAAiE/VukKaDVEChg/s1600-h/Abduh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4dtKNkhUI/AAAAAAAAAiE/VukKaDVEChg/s200/Abduh.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259674076487910722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muhammad Abduh, Tokoh Pembaharu Ilmu Tafsir*&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempelajari sebuah metode dalam disiplin ilmu tentu tidak akan terlepas dari sejarah dan asal-usul sang pencetus metode itu sendiri. Alih-alih untuk mendapatkan gambaran yang lebih gamblang atas sebuah kerangka pemikiran yang terkandung dalam sebuah ide atau gagasan, maka kaji tokoh itu dibutuhkan. Setidaknya dengan mengenal dan mengakrabi profil pencetus ide atau metode yang akan kita pelajari, akan memberikan deskripsi tentang konteks maupun latar belakang yang mempengaruhi kemunculan metode tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengkaji seorang tokoh, seseorang minimal akan mengetahui profilnya, bagaimana perjalanan hidupnya, sehingga dari situ ia akan mengambil sebuah pelajaran hidup darinya. Terlebih dari itu, seorang pengkaji akan banyak memahami sejarah, mengetahui hasil dan produk dari masa atau zaman tertentu, lalu ia komparasikan dengan masa lainnya. Maka dari situ akan muncul sebuah pemahaman seputar pemikiran ataupun ide-ide yang mendominasi masa tersebut, lengkap dengan para pelopornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami sejarah, manusia akan lebih terarah. Karena adanya masa lalu, adalah cerminan dari sepenggal kisah perjalanan para “khalifah” bumi, dari masa ke masa. Lalu dari latarbelakang itulah akan muncul sebuah perbandingan dan singkronisasi kualitas maupun kuantitas dari produk masing-masing masa. Dan dengan usaha tersebut diharapkan akan muncul sebuah perubahan yang membawa ke arah perbaikan dan pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengenal Muhammad Abduh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era globalisasi yang kian didominasi iklim materialisme dan pragmatisme, bersemilah pula jiwa-jiwa rakus yang penuh ambisi serta kepentingan pribadi. Krisis multidimensi pun tak dapat dielakkan. Termasuk pula di dalamnya adalah krisis kepercayaan dan krisis tauladan. Sebuah keteladanan, yang dari masa ke masa selalu dijadikan pedoman dan cerminan untuk muhasabah dan percontohan pun kian memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perkembangan zaman yang justru menyuguhkan kegawatan ekonomi maupun akidah umat islam sekarang, model atau tokoh yang sering diambil sebagai sample justru dari orang-orang barat. Lantaran itu, kita melihat umat islam belum mampu menunjukkan kemajuan dan perkembangannya secara kamil dan salim. Maka, seharusnya kita mengambil para tokoh islam sebagai teladan dan model kita. Muhammad Abduh, atau dengan nama lengkapnya; Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah merupakan seorang tokoh yang disegani dan patut dicontoh. Beliau telah mengorbankan seluruh jiwa, raga, harta dan seluruh kehidupannya untuk kemajuan Islam yang muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1849 Masehi, beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Mahallat Nasr yang berada di kawasan al-Buhairah, Mesir. Setelah mulai menginjak usia remaja, Abduh dikirim oleh ayahnya ke Masjid al-Ahmadi Thantha, sekitar 80 km dari Kairo, untuk belajar Tajwid al-Qur’an dengan Syaikh Mujahid yang terkenal dengan seni bacaan tajwidnya. Namun setelah beberapa saat ia belajar di sana, ia merasa bahwa metode pengajaran yang diterapkan cukup menjengkelkan dan tidak bisa ia pahami. Maka setelah 2 tahun, Abduh memutuskan untuk kembali ke desanya. Namun karena itu, ia justru dinikahkan oleh orang tuanya dalam usia 16 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terus dipaksa oleh ayahnya untuk belajar di al-Ahmadi, Abduh akhirnya melarikan diri ke Syibral Khit dimana di desa ini banyak tinggal keluarga dari ayahnya. Dan di sinilah dia bertemu dengan syeikh Darwisy Khidr, salah seorang pamannya sendiri yang mempunyai pengetahuan mengenai al-Qur’an dan penganut thariqah asy-Syadziliah. Selain itu Syeikh Darwisy juga telah hafal Muwaththa’ ibnu Malik dan beberapa kitab hadits lainnya.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari pertemuan dengan pamannya inilah Abduh mulai menemukan pencerahan akan hakikat ilmu pengetahuan dan kembali mendapat semangat untuk menimba ilmu di Mesjid Thantha. Usai dari sana, beliau melanjutkan studinya di al-Azhar, yaitu pada bulan Februari 1866. Di al-Azhar Muhammad Abduh melemparkan kritikannya tentang metode pengajaran yang diterapkan. “kepada para mahasiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama’ terdahulu, tanpa mengantarkan mereka kepada usaha penelitian, perbandingan dan pentarjihan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, di al-Azhar Abduh juga mengagumi beberapa Masyayikh. Diantaranya adalah Syaikh Hasan ath-Thawil yang mengajarkan kitab filsafat karangan Ibnu Sina, logika karangan Aristoteles dan lain sebagianya. Abduh juga mengagumi sosok Muhammad al-Basyumi yang banyak mencurahkan perhatiannya dalam bidang sastra dan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1871 Masehi, ketika Jamaluddin al-Afghani tiba di Mesir, Abduh sering menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah yang digelar oleh Syeikh Jamaluddin. Disamping itu dia juga sering mengikuti halaqah-halaqah non-formal dan mendengarkan pelajaran langsung di rumah al-Afghani. Maka secara alami, Abduh juga ikut terpengaruh dan menyebarkan corak pemikiran Afghani. Dari kedekatannya inilah Jamaluddin al-Afghani berhasil mengubah Abduh dari tasawwuf (dalam arti sempit), kepada tasawuf dalam arti lain, yaitu perjuangan untuk perbaikan masyarakat dan membimbing mereka untuk maju serta membela ajaran-ajaran Islam. [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia yang ke-26 tahun, Muhammad Abduh telah mampu menulis secara mendalam tentang aliran-aliran filsafat, ilmu kalam dan tasawwuf, serta mengkritik pendapat-pendapat yang dianggapnya salah. Selain itu, Abduh juga menulis artikel-artikel pembaruan di surat kabar al-Ahram, yang tulisannya tidak disukai oleh para pengajar di al-Azhar. Namun kerena kemampuan ilmiahnya dan pembelanya, yaitu Syeikh Muhammad al-Mahdi al-Abbasi yang waktu itu mejabat Syeikh al-Azhar, Abduh dinyatakan lulus dengan peringkat tertinggi dalam usia 28 tahun (1877 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa tahun kemudian (1879), Jamaluddin al-Afghani diusir dari Mesir, dan Abduh sendiri diasingkan di desa kelahirannya hingga akhirnya ia menyusul al-Afghani ke Paris. Di sana mereka menerbitkan Jurnal Islam “al-Urwah al-Wutsqa” atau The Firmest Bond, yang bertujuan menentang penjajahan barat, khususnya Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1885, Abduh meninggalkan Paris menuju Beirut (Libanon) dan mengajar disana sembari mengarang beberapa kitab. Hasil karyanya antara lain adalah Risalah at-Tauhid, Syarh Nahjul Balaghah (komentar menyangkut kumpulan pidato dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib), menerjemahkan karangan al-Afghani: ar-Raddu ‘ala ad-Dahriyyîn (bantahan terhadap orang-orang yang tidak percaya eksistensi Tuhan), dan Syarah Maqamat Badi’ az-Zaman al-Hamazani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa hidupnya, Abduh sangat membenci dan menentang sikap taqlid yang menghegemoni umat Islam saat itu. Hal ini sebenarnya mulai dia rasakan semenjak menginjakkan kakinya di al-Azhar, dimana dia mendapati terpolanya 2 sudut pemahaman; yaitu kaum mayoritas yang penuh taqlid dan hanya mengajarkan kepada para siswanya pendapat-pendapat ulama’ terdahulu dan sekedar dihafal. Sementara kaum minoritas adalah mereka yang suka akan pembaruan Islam (pola tajdid) yang mengarah pada penalaran dan pengembangan rasa. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 11 Juli 1905 Masehi, Muhammad Abduh telah menghembuskan nafas terakhir di rumah sahabatnya, Muhammad Bek Raban, di Ramel Iskandariah, Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumbangsih Abduh Dalam Bidang Tafsir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita hendak menelisik tentang apa yang telah dihasilkan oleh Muhammad Abduh dalam bidang tafsir, maka kita akan menemukan karyanya, sebuah tafsir terkenal dalam “Juz Amma” (juz 30 dari urutan mushaf). Tafsir yang disusun oleh Abduh atas musyawarah dari anggota “Jam’iyyah Khairiyyah al-Islamiyyah” itu diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para pengajar Jam’iyyah, dalam memberikan pemahaman terhadap para murid tentang arti dan kandungan makna dari surat-surat yang telah mereka hafal dalam juz 30. Disamping itu Abduh juga berharap agar karyanya ini bisa menjadi corong perbaikan kerja dan akhlaq mereka. Tafsir “Juz Amma” ini selesai dikerjakannya tahun 1321 H di negeri Maghrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kita juga dapat menemukan tafsir detailnya tentang surat “al-Ashr”, yang pernah beliau sampaikan dalam berbagai macam muhadharah dan sebagai bahan pelajaran untuk para ulama’ di kota al-Jazair pada tahun 1321 H/1902 M. Muhammad Abduh pernah mengatakan bahwa; “dia membacakan tafsir dari satu surat al-Ashr ini dalam waktu 7 hari, dan setiap kali pertemuan tidak kurang dari 2 jam atau 1 jam setengah”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi yang lain kita dapat menemukan berbagai macam karya Abduh dalam bentuk studi tafsirnya, yang di dalamnya ia mencoba mengobati dan memberikan solusi atas berbagai macam isykaliyyat Qur’an, dan juga memberikan pembelaan atas skeptisisme terhadap isykaliyyat tersebut. Hal ini dapat kita tengok dalam penjelasannya tentang tafsir surat an-Nisa’ ayat 78-79 . Beliau telah menggabungkan kedua ayat tersebut dan menyepakatkannya atas beberapa qaul yang menyatakan bahwa diantara keduanya terdapat perbedaan dan pertentangan. Yaitu menisbatkan perbuatan manusia kepada Allah pada satu waktu, dan perbuatan manusia kepada sesama hamba pada waktu yang lain.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tertulis dan khusus kita memang tidak mendapati Muhammad Abduh menyusun sebuah kitab tafsir 30 juz lengkap, sebagaimana para mufassir lainnya. Namun jejak pemikiran dan konsep beliau dalam bidang tafsir dapat terlihat dari setiap pelajaran yang beliau sampaikan dalam perkuliahan al-Azhar kepada para muridnya. Walaupun Abduh menyampaikan pelajaran tafsir dengan tanpa tercetak atau tertulis sedikitpun, namun kita tidak kesulitan mendapatkan jejak peninggalan beliau dalam bidang tafsir. Hal itu disebabkan karena salah satu murid beliau, Muhammad Rasyid Ridha, selalu mencatat poin-poin penting yang beliau sampaikan di sela-sela muhadharahnya. Pada tahap selanjutnya, apa yang sudah dihafal oleh Rasyid Ridha dan ia tulis lalu ia koreksikan ulang kepada Abduh untuk diteliti, sebelum akhirnya diterbitkan dalam majalah al-Manâr.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa poin pokok dari apa yang telah dihasilkan oleh Muhammad Abduh dalam bidang tafsir. Walaupun karya (tafsir yang tertulis) ini terhitung sedikit bagi sosok Abduh yang kaya ilmu dan pengetahuan, namun secara riil dapat dikatakan bahwa Abduh cukup memberikan pengaruh perubahan yang besar terhadap perkembangan tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Metodologi Tafsir Muhammad Abduh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abduh, mempelajari dan menggali tafsir al-Qur’an secara mendalam bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan ia termasuk bidang yang paling sulit namun sangat penting. Titik kesulitan tersebut menurutnya karena disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah; karena al-Qur’an merupakan “kalâm samâwi” atau “sabda langit” yang diturunkan dari haribaan Tuhan semesta alam kepada hati penutup para nabi, Muhammad SAW, dan ia mengandung begitu banyak pelajaran dan ilmu pengetahuan yang agung. Maka tidak akan mungkin bisa menemukan mutiara hikmah yang terkandung di dalamnya, kecuali orang-orang yang mempunyai hati bersih dan akal yang cemerlang. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, dalam hal ini Muhammad Abduh adalah satu-satunya ulama’, diantara sekian banyak ulama’ al-Azhar, yang secara terang-terangan menyerukan dakwahnya kepada pembaharuan dan pembebasan diri dari belenggu taqlid. Maka ia menggunakan kebebasan akalnya dalam setiap tulisan-tulisannya maupun penelitiannya. Abduh tidak menempuh dan mengikuti terhadap sesuatu yang ia anggap baku dan kaku dari pemikiran serta statemen-statemen para pendahulunya. Sehingga dari situ muncullah gagasan-gagasan serta ide Abduh yang dianggap kontroversial dan sangat kontras dengan pemikiran para ulama’ sebelumnya. Banyak dari kalangan ulama’ Mesir yang marah dan geram dengan sikap Abduh tersebut. Namun tidak sedikit pula para pengikut dan muridnya yang telah banyak mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan akal dan revolusi Abduh terhadap pola pemikiran lama ini memberikan pengaruh yang besar terhadap berbagai macam metode yang ia terapkan, termasuk dalam bidang tafsir. Diantara beberapa aspek yang membedakan Abduh dengan kebanyakan mufassirin sebelum dan sezamannya karena ia telah mengambil dasar tersendiri yang ia jadikan sebagai landasan dan alat bedah dalam menafsirkan al-Qur’an. Landasan Abduh dalam penafsirannya adalah bagaimana mendapatkan pemahaman terhadap al-Qur’an, yang merupakan pondasi dasar agama, dengan berbagai macam kandungannya yang dapat mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebab menurut Abduh, inilah tujuan tertinggi dari al-Qur’an. Adapun pembahasan-pembahasan lain yang menyertainya merupakan konsekuensi atau aksi lanjutan dan jalan untuk mencapai tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Abduh menetapkan landasan dasar ini dalam ranah penafsirannya, ia beranjak mengkritik kelalaian para mufassirin dari tujuan utama ini. Yaitu tentang apa yang ada dalam al-Qur’an -dari petunjuk dan bimbingan- lalu mereka perluas pembahasan tafsir mereka kepada bentuk lain dari segi balaghah, nahwu, perbedaan-perbedaan dalam hukum fikih, dan berbagai macam maqashid yang dinilali oleh Abduh; dengan itu justru dapat menghamburkan maksud asli dari kitab suci, sekaligus mengarah kepada egoisme dan fanatisme terhadap kepentingan madzhab masing-masing. Akibat dari dominasi nafsu kepentingan tersebut dikhawatirkan akan membuat mereka alpa akan makna yang hakiki dari al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi fenomena ini, Syeikh Muhammad Abduh mengklasifikasikan corak penafsiran menjadi dua bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penafsiran yang kering dan jauh dari ruh ketuhanan sekaligus kitab-Nya. Yang ia maksud di sini adalah penguraian/perincian per kata, lalu kedudukan kalimat dalam i’rab, dan penjelasan dari apa yang disiratkan oleh kandungan ungkapan-ungkapan serta isyarat dari disiplin ilmu tersebut. Abduh berkata: “model atau corak penafsiran yang seperti ini sebetulnya tidak pantas disebut sebagai tafsir. Akan tetapi ia adalah bentuk dari semacam latihan dan ujian dalam sebuah disiplin ilmu seperti nahwu, ma’ani, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Corak kedua adalah metode penafsiran yang digunakan oleh mufassir dengan memahami maksud sebuah ucapan, Hikmah at-Tasyrî’ fi al-‘Aqâ’id wa al-Ahkâm (dalam bentuk yang dapat menarik hasrat hati), lalu menggiringnya pada aktualisasi dalam perbuatan nyata dan menemukan petunjuk yang tersirat dalam setiap kalam/sabda. Maka dari sini diharapkan akan dapat merealisasikan firman Allah; al-Qur’an sebagai “Hudan wa Rahmatan” dan semisalnya, dari berbagai macam sifat al-Qur’an (yang dinyatakan oleh Abduh; “inilah tujuan utama yang tersirat dalam kegiatan membaca dan menafsirkan al-Qur’an”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ungkapan di atas, sejatinya Muhammad Abduh tidak lantas mengabaikan secara serta-mertra faktor-faktor balaghiyyah dan nahwiyyah dalam penafsiran al-Qur’an. Akan tetapi Abduh bermaksud agar para mufassir bisa mengambil unsur tersebut sesuai kebutuhan saja. Misalnya seorang mufassir menjelaskan dari segi balaghah dan i’rab terhadap sebuah kalimat yang masih ambigu dan bersifat multiinterpretatif, dan dalam bentuk yang sesuai dengan kaidah fashahah Qur’an dan balaghahnya, dengan tanpa berlebih-lebihan.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, secara lebih rinci Muhammad Abduh juga membagi tingkatan tafsir menjadi dua bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø Tingkatan yang terendah, adalah model tafsir yang hanya menjelaskan secara global apa yang bisa dicerna oleh hati tentang kebesaran Allah dan penyucian-Nya. Lalu dapat menghindarkan nafsu dari perbuatan jelek, dan menariknya untuk berbuat kebaikan (baca: Q.S al-Qamar: 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ø Adapun tingkatan yang tertinggi hanya akan tercapai setelah memenuhi beberapa syarat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memahami hakikat makna per kata yang terkandung dalam al-Qur’an, dengan syarat seorang mufassir harus mendengarnya langsung dari ahli bahasa, bukan hanya mendengarnya dari perkataan dan pemahaman seseorang (yang belum jelas.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memahami berbagai macam gaya bahasa. Dengan kemampuan ilmunya, seorang mufassir diharapkan mampu memahami gaya bahasa dalam ungkapan-ungkapan al-Qur’an yang tinggi. Tingkatan ini dapat dicapai dengan mempelajari dan menerapkan rumus-rumus atau kaidah “kalam baligh” serta dibarengi dengan pendalaman corak sastra, dan menjaga agar bisa selaras dengan makna yang tekandung dalam teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mengetahui ilmu sosiologi. Di dalam al-Qur’an banyak kita temukan ayat yang berbicara tentang kondisi sosial masyarakat , kisah-kisah sejarah umat manusia, dan sunnatullah dalam diri manusia, yang menjadikan ilmu sosiologi itu penting untuk dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Mengetahui konteks dimana dan bagaimana al-Qur’an diturunkan, sehingga dapat mengetahui sisi-sisi al-Qur’an sebagai petunjuk pada masa kenabian dimana al-Qur’an diwahyukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Mengetahui sejarah perjalanan Nabi SAW dan para sahabatnya, serta keilmuan mereka dan perbuatan mereka dalam ibadah dan mu’amalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan utama yang termaktub dalam kegiatan membaca tafsir adalah penggabungan syarat-syarat tersebut, agar bisa mencapai target purna yaitu mendapatkan pemahaman akan arti sebuah ungkapan Tuhan. Di samping itu juga untuk mendapatkan pemahaman tentang hikmah pensyariatan akidah dan hukum dalam bentuk yang bisa menarik hati, sekaligus mengantarkannya pada perbuatan nyata atas pantulan cahaya petunjuk yang tersimpan dalam al-Qur’an. Adapun tujuan hakiki dari semua usaha tersebut adalah untuk mencari petunjuk dari al-Qur’an al-Karim.[9]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan Antar Metode&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari beberapa uraian di atas, setidaknya kita mulai dapat menyimpulkan metode seperti apa yang sebenarnya diinginkan oleh Syeikh Muhammad Abduh. Maka jika kita komparasikan dengan empat metode tafsir yang sudah ada; tahlili (analitik), ijmâli (global), muqârin (perbandingan) dan maudhu’i (tematik), kita dapat menganalisa Abduh lebih cenderung membuat metode sendiri yang tidak berkutat pada salah satu dari keempat metode itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode tahlili; tentu saja Abduh tidak murni menggunakan satu metode ini. Karena yang dikehendaki oleh metode analitik adalah dengan menjelaskan setiap kosa kata dan lafadz, menjelaskan arti yang dikehendaki, sasaran yang dituju dan kandungan ayat; yaitu unsur-unsur i’jaz, balaghah, dan keindahan susunan kalimat, menjelaskan apa yang dapat diambil dari ayat; yaitu hukum fikih, dalil syar’i, arti secara bahasa, norma-norma ahlak dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara metode ijmâli; metode ini sebenarnya hampir sama dengan metode pertama (dalam hal menafsirkan al-Qur’an dari ayat per ayat). Namun perbedaannya terdapat pada penjelasan yang detail dan rinci pada metode pertama, sementara metode ijmâli tidak menjelaskan per ayat secara detail dan tuntas. Maka Abduh tidak termasuk memakai metode ini karena beliau belum sempat menghasilkan kitab tafsir secara tuntas 30 juz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu metode muqârin atau muqâranah; tafsir ini menggunakan metode perbandingan antara ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, atau antara pendapat-pendapat para ulama’ tafsir dengan menonjolkan perbedaan tertentu dari obyek yang diperbandingkan itu. Jika kita tengok ulang, maka Muhammad Abduh terlihat jarang menggunakan metode ini, terlebih dengan memberikan perbandingan antara pendapat-pendapat para ulama’ tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun metode maudhu’i; Muhammad Abduh juga tidak menempuh metode ini karena yang dimaksudkan di sini adalah penyusunan tafsir dengan mengumpulkan ayat-ayat yang se-tujuan menjadi satu bab sesuai tema/topik yang ditentukan. Sementara selama mengajar di al-Azhar beliau hanya sempat mengajarkan tafsir mulai dari awal al-Qur’an (surat al-Fatihah) pada bulan Muharram 1317 H dan selesai hingga surat an-Nisa’ ayat 126, pada pertengahan Muharram 1323 H.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode penafsiran Abduh memang cukup susah untuk dianalisa dan dikategorikan. Pasalnya beliau memang belum pernah secara khusus menulis satu kitab tafsir secara utuh. Namun setidaknya kita dapat mengetahui lebih jauh tentang metodologi tafsir Muhammad Abduh lewat corak yang ia hadirkan dalam beberapa kajian tafsirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Corak Khusus Penafsiran Muhammad Abduh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya seorang mufassir, bahkan setiap orang pun (yang mengetahui bahasa arab) ketika membaca al-Qur’an, maka maknanya akan jelas di hadapannya. Namun tatkala ia membacanya sekali lagi, tidak menutup kemungkinan ia akan mendapati makna lain yang berbeda dari makna pertamanya. Demikian seterusnya hingga Abdullah Darraz mengatakan dalam an-Naba’ al-Adzim sebagai berikut: “Ayat-ayat al-Qur’an bagaikan intan. Setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dari sudut yang lainnya. Dan tidak mustahil ketika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan mendapatkan yang lebih banyak dari apa yang kita lihat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, setiap penafsir akan menghasilkan corak penafsiran yang berbeda tergantung latar belakang keilmuan, kondisi sosial kemasyarakatan, aliran kalam, madzhab fikih, kecenderungan sufisme mufassir itu sendiri, sehingga akan menghasilkan berbagai macam corak dan warna penafsiran al-Qur’an. Beberapa corak yang muncul antara lain Corak Sastra Bahasa[11], Corak Filsafat dan Teologi[12], Corak Penafsiran Ilmiah, Corak Fikih[13], Corak Tasawuf[14] dan Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun corak yang terakhir inilah (Corak Sastra Budaya Kemasyarakatan) yang digagas dan didengungkan pertama kali oleh Syeikh Muhammad Abduh. Melalui corak ini Abduh ingin menguak dan menjelaskan petunjuk-petunjuk dari ayat al-Qur’an yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, usaha-usaha untuk menanggulangi berbagai macam penyakit atau masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk-petunjuk ayat, dengan mengemukakan petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti, namun enak didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah uraian sederhana seputar riwayat hidup Syeikh Muhammad Abduh dan sepak terjangnya dalam dunia tafsir. Tidak ada manusia sempurna di dunia ini kecuali para Nabi dan Rosulullah yang ma’shum. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Maka dengan mengenal dan mengkaji para tokoh dan ulama’-ulama’ terdahulu Islam, kita bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran yang baik dari mereka untuk kita teladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa poin penting yang bisa kita petik dari Syeikh Muhammad Abduh. Yang pertama, yaitu semangat beliau dalam menyebarkan dan menyegarkan ajaran islam. Dengan memberikan tasyji’ kepada umat islam untuk terus belajar dan menggali ilmu, sehingga dari situ kita tidak hanya menjadi muqallid yang kaku, namun menjadi muslim yang kaffah. Kedua, dalam sebuah ungkapannya beliau berkata : bahwa ”al-Qur’an adalah sebagai timbangan dimana nilai-nilai akidah akan diketahui dari situ. Dan beliau menyatakan bahwa, wajib bagi setiap orang yang menelaah al-Qur’an agar menjadikannya sebagai sumber atau asal-muasal dimana akidahnya itu diambil, lalu ia mengambil sebuah istinbath/keputusan dari situ”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan tersirat dari ungkapan di atas adalah, bahwa keberadaan al-Qur’an adalah sumber dari segalanya. Maka setiap akidah, syari’at, hukum dan lain sebagainya berasal dari al-Qur’an. Dan bukanlah sebaliknya, yaitu menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan dan pembenar atas klaim madzhab masing-masing ataupun aliran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, untuk menjadi seseorang yang “luar biasa”, terkadang kita memang harus siap menerima penentangan atau bahkan terasingkan tanpa terbuang atas sikap yang kita ambil. Hingga pada akhirnya kita dapat benar-benar membuktikan bahwa sikap kita itu tidak salah, bahkan mendekati ‘kebenaran’. Maka, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;to be different is not crime!&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wallahu a’lam&lt;/span&gt;.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Makalah ini dipresentasikan dalam Diskusi Reguler KSW pada hari Selasa tanggal 13 Maret 2007 di Aula Griya Jateng H.10, Kairo, Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Mahasiswa tingkat 2 Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo yang juga sebagai Koordinator Dept. Kaderisasi KSW 06/07 dan santri Afkar for Aufklarung PCINU Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Dr. Munî’ Abdul Halim Mahmud, Manâhij al-Mufassirîn, Maktabah al-Iman, Kairo, 2003, cet. 2, hal. 242&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Shalah Zaky Ahmad, Qâdatu al-Fikr al-Arabiy, ‘Ashr al-Nahdhah al-Arabiyyah 1798/1930, Kairo: Dâr Sa’ad al-Shabah, 1993, cet. 1, hal. 111&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dicuplik dan diringkas dari buku Rasionalitas al-Qur’ân, Studi Kritis atas Tafsir al-Manâr, karya M. Quraish Shihab, Jakarta: Lentera Hati, 2006, cet. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Dr. Muhammad Husein al-Dzahabi, at-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Kairo: Avand Danesh LTD, 2005, cet. 1, jilid 2, hal. 371-372.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Penjelasan lengkapnya bisa dilihat di “al-A’mâl al-Kâmilah li al-Imâm Muhammad Abduh”, tahqîq wa taqdîm Dr. Muhammad Imarah, Jilid 5, tentang tafsir surat an-Nisâ’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Dr. Muhammad Husein al-Dzahabi, op. cit, hal. 372-373.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Dr. Munî’ Abdul Halim Mahmud, op. cit, hal. 244.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Dr. Muhammad Husein al-Dzahabi, op. cit, hal. 373-374.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Dr. Munî’ Abdul Halim Mahmud, op. cit, hal. 245-246.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Dr. Muhammad Husein al-Dzahabi, op. cit, hal. 372.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Tafsir dengan corak ini bisa kita lihat seperti Tafsir “al-Kasysyâf” karya al-Zamakhsyari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Baca: dalam kitab “Atsar at-Tathawwur al-Fikri fi at-Tafsîr fi al-Ashr al-Abbasi” karya Dr. Musa’id Muslim Abdullah Ali Ja’far, Beirut: Mu’assasah ar-Risâlah, hal. 281-289, tentang pembahasan pengaruh Filsafat dan Ilmu Kalam terhadap Tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Seperti halnya yang jamak diketahui bahwa al-Qur’an adalah sumber hukum pertama dalam islam (fikih, red). Sementara itu, Fikih merupakan tiang keilmuah islam dalam bidang amaliyyah (ibadah dan mu’amalah), yang diatasnya terdapat tanggung jawab untuk dapat mengatur kehidupan masyarakat muslim, serta falsafah moral perilakunya. Maka dari sini sangat jelas bahwa ia kerkait-kelindan dengan Tafsir, yang merupakan interpretasi dari kalam Tuhan (baca: dalam kitab referensi sebelumnya di footnote 12). Dan kemunculan corak fikih dalam tafsir ini tentu didahului oleh kemunculan berbagaimacam madzhab fikih, yang tentu saja selalu merujuk pada al-Qur’an (sebagai sumber dasar) dalam pembahasan setiap hukumnya. Namun ironisnya, terkadang para fuqaha’ justru terjebak pada sikap fanatisme buta dan tidak inshaf, dengan mencari-cari dalil al-Qur’an dengan dalih membenarkan madzhabnya masing-masing. Satu yang dikritik oleh Abduh di sini adalah, bahwa alqur’an adalah sebagai sumber awal dan timbangan dari berbagaimacam cabang keilmuan, aliran, dan lain sebagainya. Dan bukan justru al-Qur’an sebagai alat untuk mengklaim kebenaran setiap aliran yang berbeda-beda. Abduh berkata:“(yang aku maksudkan adalah supaya al-Qur’an menjadi asal-muasal yang diatasnya muncul berbagai macam madzhab dan pemikiran keagamaan, bukan justru madzhab yang menempati posisi asal dan al-Qur’an hanya sebagai penyangganya saja)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Contoh dari corak ini dapat kita lihat dalam kitab “Khaqâ’iq at-Tafsîr” karya Abu Abdirrahman as-Silmiy dan kitab “Lathâ’if al-Isyârât” karya Imam Abi al-Qasim al-Qusyairiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Corak Sastra Kemasyarakatan tersebut dapat kita lihat dari kemunculan Madrasah Tafsir Muhammad Abduh yang ia pelopori, dengan didukung dan dikembangkan oleh para muridnya yang antara lain adalah; M. Rasyid Ridha dan Syeikh Muhammad Musthafa al-Maraghi. Pembahasan ini dapat kita temukan pula dalam kitab “Tafsir wa al-Mufassirun”, karya al-Dzahabi pada Bab Corak Sastra Kemasyarakatan dalam Tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-5127754828579052286?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/5127754828579052286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=5127754828579052286' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/5127754828579052286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/5127754828579052286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/10/kaji-tokoh-tafsir-2.html' title='Kaji Tokoh Tafsir (2)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4dtKNkhUI/AAAAAAAAAiE/VukKaDVEChg/s72-c/Abduh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-8148598801544509321</id><published>2008-09-18T14:10:00.001-07:00</published><updated>2008-10-21T11:17:06.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kajian Tematik'/><title type='text'>Kajian Tematik (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;USHUL FIKIH, HERMENEUTIK DAN SEMIOTIK;&lt;br /&gt;Sebuah Pengantar Studi[1]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Oleh: M. Luthfi al-Anshori[2])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“…Dan Kami turunkan Kitab (al-Qur`an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu,&lt;br /&gt;sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah (muslim).” (QS. An-Nahl [16]: 89)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur`an adalah ruh semesta; olehnya segala yang ada lebih bermakna, karenanya segala yang gelap menjadi terang dan kepadanya segala pengetahuan bermuara. Ia ibarat sebuah pondasi kokoh, yang di atasnya berdiri bangunan menjulang berkilau cahaya, sehingga biasnya mampu menerangi setiap sudut cakrawala. Ia juga laksana tiang-tiang, yang menyangga berbagai apa yang membutuhkan penyangga. Iapun seperti bumi, yang darinya tumbuh berbagai pepohonan, bunga serta rerumputan yang menghias wajah dunia. Al-Qur`an adalah the way of life, sebuah kitab pedoman dalam menjalankan amanah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana termaktub dalam penggalan ayat ke-89 surat an-Nahl di atas, sepintas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa, al-Qur`an diturunkan sebagai petunjuk atas segala sesuatu. Namun, apakah “segala sesuatu” yang dimaksud itu benar-benar meliputi segala aspek kehidupan manusia? Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Qur’an memang tidak menjelaskan secara rinci seluruh urusan yang terkait dengan kehidupan manusia. Namun, di dalam al-Qur`an setidaknya telah mengandung pokok-pokok atau dasar-dasar dari segala jenis ilmu (baik secara tegas ataupun sebatas isyarat) yang berguna bagi kemaslahatan manusia secara khusus, serta keseimbangan tata kosmos secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Mas’ud berkata: “telah diturunkan di dalam al-Qur`an segala jenis ilmu, dan segala sesuatu telah dijelaskan kepada kita di dalamnya”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan diktum di atas, Imam Syafi’i juga pernah berkata: “Tanyailah aku (tentang hal apapun) sesuka kalian, maka aku akan memberi jawabannya dari dalam al-Qur`an!”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pada makalah kali ini, penulis tidak hendak mengkaji secara detail seluruh aspek ilmu pengetahuan yang dikandung al-Qur`an. Pasalnya, jika itu dilakukan, maka seumur hidup pun tak akan cukup untuk merampungkannya. Allah Swt. berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi [18]: 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis akan membatasi obyek kajian pada bidang ilmu Ushul Fikih saja, yang notabenenya masih mempunyai hubungan erat dengan al-Qur’an maupun Ilmu Tafsir. Di samping itu, penulis juga hendak melakukan elaborasi dengan beberapa konsep lain, yaitu hermeneutika dan semiotika. Adalah dua bidang ilmu yang menurut hemat penulis mempunyai hubungan cukup strategis dengan diskursus Ushul Fikih. Selanjutnya, semoga bimbingan Allah Swt. senantiasa menyertai proses peracikan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, juga bagi seluruh pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Definisi dan Karakteristik masing-masing Terma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I. Ushul Fikih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Khaldun, dalam kitabnya “al-Mukaddimah” memaparkan bahwa, disiplin Ushul Fikih merupakan salah satu ilmu ‘baru’ dalam ruang lingkup agama Islam. Meskipun demikian, ia merupakan ilmu agama yang paling penting dan banyak manfaatnya.[5] Signifikansi Ushul Fikih tersebut, menurut Isnawi, setidaknya terangkum dalam dua hal: pertama, sebagai kaidah istinbâth al-ahkâm (inferensi hukum-hukum Islam); kedua, sebagai landasan bagi pengeluaran fatwa-fatwa atas berbagai persoalan parsial.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun definisi Ushul Fikih sendiri, beberapa ulama mempunyai ungkapan yang berbeda-beda, namun pada dasarnya mengandung substansi yang sama. Syeikh Muhammad al-Khadlari dalam kitab “Ushûl al-Fiqh” menyebutkan bahwa, Ushul Fikih adalah: “kumpulan kaidah-kaidah, yang dengannya akan mengantarkan pada proses inferensi (istinbâth) hukum-hukum Islam, dari berbagai dalil yang ada”[7]. Sementara Dr. Abdul Karim Zaidan, dalam kitab “al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh” menyatakan, Ushul Fikih adalah: “ilmu dengan berbagai macam kaidah serta dalil-dalil global (ijmâli), yang dengannya mengantarkan pada proses inferensi (istinbâth) hukum-hukum Fikih.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar lebih sempurna, perlu kiranya kita menyimak pengertian Ushul Fikih yang disampaikan oleh Imam al-Baidlawi dalam kitab beliau “Minhâj al-Wushûl ilâ ‘Ilmi al-Ushûl” bahwa, Ushul Fikih adalah: “ilmu/pengetahuan tentang dalil-dalil fikih secara global, tata cara penggunaannya (kaifiyyat al-istifâdah), serta orang yang melakukannya (mustafîd/mujtahid).”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari beberapa definisi di atas, kita dapat mengambil sebuah konklusi bahwa Ushul Fikih merupakan gabungan dari tiga unsur; pengetahuan tentang dalil-dalil fikih ijmâliy, metode penarikan hukum dari dalil-dalil tersebut dan syarat-syarat seorang mujtahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada ruas ini, lagi-lagi penulis tidak hendak mengkaji satu per satu tiga unsur pembangun Ushul Fikih tersebut. Namun secara lebih spesifik akan sedikit membidik unsur kedua, yaitu terkait metode penarikan hukum serta kaidah-kaidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang lazim diketahui, bahwa landasan hukum dalam Islam diambil dari dua sumber utama; al-Qur`an dan al-Hadits. Oleh sebab itu, ketika melakukan proses istinbâth (inferensi) hukum, seorang juris (faqîh) tentu saja harus berurusan dengan teks kitab suci dan juga tradisi. Mengingat urgensitas teks-teks keagamaan tersebut, hampir separo dari pembahasan dalam Ushul Fikih dialokasikan untuk membahas dan menjelaskan kaidah-kaidah serta metodologi dalam mengambil makna dan kandungan yang ada di balik tiap-tiap lafaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai literatur Ushul Fikih, kita akan dengan mudah menemukan berbagai penjabaran tentang fasal-fasal yang terkait dengan pembahasan lafaz. Dalam kitab “Ushûl al-Fiqh” karya Syeikh Muhammad al-Khadlari, pembahasan ini dimasukkan dalam istilah al-Qaulu fi al-dilâlât yang diklasifikasikan lagi menjadi dua bagian, yaitu dilâlat menurut madzhab Hanafi dan dilâlat menurut madzhab Syafi’i. Sementara kalau menilik kitab “al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh”, kita akan menemukan sebuah pembahasan khusus dalam fasal: “al-qawâ’id al-ushûliyyah al-lughawiyyah” yang mencakup beberapa kaidah penting terkait dengan lafaz. Antara lain adalah; âm dan khâsh, muthlaq-muqayyad, al-amru wa al-nahyu, lafadz musytarak, haqîqi dan majâziy, dzâhir, nash, muhkam-mutasyâbih, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sedikit deskripsi di atas, setidaknya kita tahu bahwa para ushûliyyin dan ulama-ulama Islam secara umum telah meletakkan kaidah-kaidah dasar atau metode dalam kerangka pembacaan teks. Sebab, hal inilah yang sejatinya menjadi inti dari proses pengambilan hukum yang dilakukan para juris. Untuk itu, salah satu yang menjadi syarat penting seorang mujtahid adalah menguasai kaidah bahasa, yang dalam hal ini termasuk nahwu dan sharf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini, dalam diskursus Ushul Fikih biasa disebut dengan istilah ushûl lafdzi. Berangkat dari sini, hubungan antara Ushul Fikih dan Hermeneutik bisa digambarkan. Dan oleh karenanya, terma tafhîm (memahamkan) dan tafâhum (saling memahami) mengetengah di antara komunikan (mutakallim) dan komunikator (mukhâtab), dimana keduanya sejatinya tak memiliki horizon yang sama.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II. Hermeneutik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah hermeneutika merupakan turunan dari kata kerja Yunani, hermeneuin yang berhubungan dengan kata benda hermenes dan terkait dengan dewa dalam mitologi Yunani kuno bernama “Hermes”. Hermes merupakan utusan para dewa untuk membawa pesan Ilahi yang memakai bahasa “langit” kepada manusia yang menggunakan bahasa “dunia”.[11] Untuk tujuan itulah maka diperlukan interpretasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai turunan dari simbol dewa, hermeneutika berarti suatu ilmu yang mencoba menggambarkan bagaimana sebuah kata atau suatu kejadian pada waktu dan budaya yang lalu dapat dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah Teks. Karena obyek kajian utamanya adalah pemahaman makna pesan yang terkandung dalam teks dengan variabelnya, maka tugas utama hermeneutika adalah mencari dinamika internal yang mengatur struktur kerja suatu teks untuk memproyeksikan diri ke luar dan memungkinkan makna itu muncul. Melalui hermeneutika, hasil sebuah analisis bisa berbeda dengan maksud penggagas, namun juga bisa sama.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, kemunculan hermeneutik dipelopori oleh Friedrich Daniel Ernst Scheleirmacher[13] (1768-1834 M.), seorang teolog beragama protestan dan juga sastrawan yang berasal dari Jerman. Karena perhatian dan kesungguhannya dalam kajian hermeneutika, maka ia disebut-sebut sebagai bapak ilmu ‘tafsir’ modern atau neo-hermeneutik yang sah. Mengingat posisi dia sebagai seorang pendeta protestan yang begitu terpengaruh oleh teologi ketuhanan agama yang dianutnya, hal itu secara natural berpengaruh pada pola fikirnya yang menggabungkan antara kemampuan nalar dengan sense of religion yang ia miliki. Hal ini berbeda dengan beberapa filosof lain yang cenderung memisahkan antara aql dan dîn.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pencetus hermeneutika teoritis, Scheleirmacher mengandaikan adanya sebuah usaha untuk merekontsruksi makna, yang dalam hal ini ia menawarkan dua pendekatan: pertama, pendekatan linguistik yang mengarah pada analisis teks secara langsung; kedua pendekatan psikologis yang mengarah pada unsur psikologis-subyektif sang penggagas sendiri. Dua unsur pendekatan ini dalam hermeneutika teoritis, dipandang sebagai dua hal yang tidak boleh dipisah. Memisah salah satunya akan menyebabkan sebuah pemahaman terhadap pemikiran seseorang menjadi tidak obyektif. Sebab, teks menurut hermeneutika teoritis sebagai media penyampaian gagasan penggagas kepada audiens. Agar pembaca memahami makna yang dikehendaki penggagas dalam teks, hermeneutika teoritis mengasumsikan seorang pembaca harus menyamakan posisi dan pengalamannya dengan penggagas teks. Dia seolah-olah bayangan penggagas teks. Agar mampu menyamakan posisinya dengan penggagas, dia harus mengosongkan dirinya dari sejarah hidup yang membentuk dirinya, dan kemudian memasuki sejarah hidup penggagas dengan cara berempati kepada penggagas.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase-fase selanjutnya, kajian hermeneutika menjadi lebih bervarian lagi dengan kemunculan beberapa pakar lainnya. Sebut saja Wilhelm Dilthey (1833-1911 M.), seorang pakar ilmu sosial-humaniora jebolan Universitas Berlin. Ia dianggap sebagai pelanjut gagasan hermeneutika Scheleirmacher. Setelah Dilthey, pada akhir abad 19 muncul seorang tokoh bernama Martin Heidegger (1889- 1976 M.) yang terkenal dengan bukunya Being and Time, lalu Hans George Gadamer (1900-2002) sang penggagas hermeneutika filosofis. Yang tak kalah masyhurnya adalah Paul Ricouer, seorang filosof Perancis yang banyak bersentuhan dengan kajian semantik. Meskipun mereka berangkat dari sebuah metode dan latar belakang yang berbeda-beda, namun secara aklamatis seakan mereka bersepakat bahwa hermeneutik adalah produk paling asli dari budaya menafsirkan Injil.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari sedikit gambaran di atas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa beberapa (untuk tidak menyebut semua) kajian hermeneutika juga terkait dengan disiplin Ushul Fikih. Hal itu antara lain ditengarai oleh kesamaan tujuan sebagaimana keduanya yang menghendaki terungkapnya sebuah makna yang dikandung oleh sebuah teks. Menariknya, bahwa ketika hermeneutika mengandaikan sebuah makna yang up to date dan selaras serta integral dengan laju zaman, maka Ushul Fikih pun demikian. Sebab, sebagaimana yang didengungkan oleh para pakar Fikih (begitu juga seluruh ulama Islam), bahwa syari’at Islam mempunyai sebuah karakteristik khusus, yaitu “peka zaman” (shâlih li kulli zamân wa makân). Dengan bergulirnya waktu yang tak jarang memunculkan problem-problem baru, entah yang bersifat kemanusiaan ataupun terkait dengan agama, maka konsekuensi logisnya adalah bagaimana seorang juris (faqîh) bisa melakukan dinamisasi teks keagamaan (yang notabenenya telah diturunkan sejak berabad yang lalu dalam sebuah dimensi ruang dan waktu yang berbeda dengan sekarang), sehingga menjadi layak dan relevan untuk diterapkan sesuai tuntutan unsur-unsur yang ada di luar teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;III. Semiotik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah “semiologi” lebih banyak digunakan di Eropa, sedangkan “semiotik” lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani “semeion” yang berarti ‘tanda’ atau “sign” dalam bahasa Inggris itu, adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai sebuah teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ini (semiotik) merupakan sebuah teori yang mulai populer pada masa postmodernisme. Yaitu yang dipelopori oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913 M.), yang oleh dunia modern diakui sebagai peletak awal dasar-dasar semiotika. Namun jika kita menengok ke berbagia literatur turâts Islam, khususnya dalam bidang kajian Ushul Fikih, maka kita akan menemukan sebuah fakta bahwa para ushûliyyûn sebenarnya telah memakai konsep ini, dalam rangka menggali hukum Islam dari sumbernya; al-Qur`an dan al-Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, para Ushûliyyûn telah menggunakan metode bayâni dalam yang logika dasarnya adalah signifikasi tanda. Yaitu sebuah “tanda” yang dibentuk oleh dua unsur penting; dâllun (penanda) dan madlûlulun (petanda). Adalah imam Syafi’i (150-204 H.), salah satu imam pencetus, sekaligus yang membukukan pertama kali kajian Ushul Fikih dalam sebuah masterpiece-nya, “al-Risâlah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferdinand de Saussure, yang kala itu penjadi seorang pengajar di universitas Jenewa pada 1906, telah memberikan berbagai kuliah kepada para muridnya tentang semiotika sebagai ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi dan cara kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya, semiologi ala Saussure melahirkan lingkaran intelektual yang sangat berpengaruh antara 1950-an sampai 1960-an. Mazhab tersebut disebut strukturalisme. Tesis utama strukturalis ialah “bahwa alam dunia dapat dipahami selama kita mampu mengungkap adanya struktur yang menjamin keteraturan, atau pola sistematika benda, kejadian, kata-kata, dan fenomena”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-3 Hijriyah Ushuliyyûn telah menciptakan sebuah metode baca teks. Metode ini menjadi bagian penting dalam proses istinbâth hukum Islam. Dalam disiplin Fikih dan Ushul Fikih mempelajari metode bayâni adalah suatu keniscayaan, karena seorang mujtahid mau tidak mau ketika melakukan istinbâth hukum harus berhadapan dengan teks, al-Qur`an dan al-Hadits, yang keduanya menggunakan media bahasa untuk menyampaikan pesan. Metode bayâni digunakan sebagai langkah awal untuk mendapatkan pemaknaan dari nash-nash tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika dasar metode bayâni adalah signifikasi tanda. Tanda dibentuk dari dua unsur, yaitu dâllun (penanda) dan madlûlulun (petanda). Nalar ini sama dengan prinsip dasar linguistik yang dikembangkan oleh Saussure. Proses signifikasi selanjutnya adalah dengan memperhatikan hubungan antar tanda dalam satu kalimat, atau disebut hubungan sintagmatik. Kedua disiplin ilmu ini, metode bayâni dan semiotika struktural, sangat memperhatikan struktur tanda-tanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa data di atas, setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sejatinya konsep semiotika yang digunakan oleh kalangan strukturalis telah ada dan dipraktekkan di awal-awal masa pembentukan Ushul Fikih. Namun secara lebih elaboralif, para pakar semiotika, termasuk Saussure wa man ‘alâ syâkilatihi, telah mampu mengembangbiakkan metode ini hingga sedemikian rupa dan masih saja kita kenal hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, semiotika dalam perkembangannya juga tidak melulu bertumpu pada hasil kajian Saussure. Bahkan pada fase selanjutnya semiotika masa strukturalis dibantai dan didekonstruksi ulang pada masa post-strukturalis oleh Jacques Derrida dan kawan-kawannya. Derrida menyebutkan bahwa tak ada perbedaan eksistensial di antara berbagai jenis literatur yang berlainan. Semua naskah memiliki ambiguitas fundamental yang merupakan akibat dari sifat natural bahasa itu sendiri. Begitu juga dengan al-Qur`an. Derrida bersikukuh bahwa ada banyak cara untuk membaca dan memahami teks. Makna teks tidak lagi sama dengan apa yang dikehendaki oleh si pengarang. Yang tercatat dalam naskah bisa menimbulkan “multiple-understanding” (keragaman pemahaman) pada saat yang sama.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Epilog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah seterusnya perdebatan seputar semiotika, hermeneutika dan pemahaman atas teks terus bergulir. Namun pada intinya, bahwa setiap konsep yang muncul itu tiada lain adalah sebuah hasil olah fikir akal manusia. Maka hasilnya pun bisa benar dan bisa juga salah. Sementara di kalangan ulama Islam sendiri, kajian tentang Ushul Fikih pun terus berkembang hingga sekarang, dan sedang menuju pada proses penyempurnaan demi penyempurnaan. Catatan yang perlu diingat, bahwa masing-masing pakar mempunyai latar belakang kultur-budaya maupun intelektual yang berbeda, sehingga obyek serta hasil kajian pun menjadi bermacam-macam. Namun tidak menutup kemungkinan bagi kita, para muta`akhkhirîn, untuk melakukan berbagai kajian komparatif atas berbagia konsep yang berbeda, namun masih mempunyai keterikatan karakter, sebagaimana Ushul Fikih, hermeneutika dan semiotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga disiplin di atas, kesemuanya masih berkisar pada pembahasan teks dan pengambilan makna. Semua yang tercatat, semua yang tertulis tentu tidak lepas dari tujuan dan maksud yang di kandung di dalamnya (di balik teks). Maka, ketika para penulispun sudah tiada, para generasi setelahnya masih mampu mengambil pelajaran melalui kajian teks-teks yang ada, untuk direkontekstualisasikan sesuai zaman yang ada, sehingga teks-teks tersebuat tidak hanya menjadi benda mati yang hampa makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan al-Qur’an dan al-Hadits, yang keduanya merupakan sumber dasar pengambilan hukum Islam, tentunya juga harus terus dikaji dan kaji, guna menghasilkan berbagia makna baru yang relevan dengan zaman maupun tempat di mana ia berada (bukan hanya relevan pada zaman dan tempat dimana ia diturunkan saja). Sebab karakter dunia adalah selalu berubah, yang mana dari perubahan itu menuntut munculnya berbagai problem baru yang belum pernah ada sebelumnya. Maka dari situ, proses pengkajian teks-teks keagamaan itu selalu dibutuhkan guna menemukan keselarasan antara dunia teks dengan dunia nyata, berikut juga antara dunia pengarang dan dunia pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sedikit yang mampu kami paparkan, semoga bermanfaat dan bisa disempurnakan lagi di masa-masa yang akan datang. Wallahu a’lam bi al-Showâb.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Makalah ini disampaikan dalam kajian Fordian pada tanggal 13 September 2008, Hay Tsamin, Nasr City, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Mahasiswa tingkat akhir Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar, Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab Tafsirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Termaktub dalam kitab “Manâqib al-Imâm al-Syâfi’i” karangan Imam al-Baihaqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Ibnu Khaldun, al-Muqaddimah, Maktabah Usrah, Kairo, 2006, cet. I, hal. 960.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Al-Isnawi, Nihâyat al-Sûl fî Syarhi Minhâj al-Wushûl ilâ ‘Ilmi al-Ushûl, Dâr Ibnu Hazm, Beirut, 1999, cet. I, jilid 1, hal. 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Syeikh Muhammad al-Khadlari, Ushûl al-Fiqh, Maktabah Taufîqiyyah, Kairo, tidak disebutkan tahun serta edisi cetak, hal. 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Dr. Abdul Karim Zaidan, al-Wajîz fî Ushûl al-Fiqh, Mu`assasah al-Risâlah, Beirut, 1996, cet. V, hal. 11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Al-Isnawi, op. cit, hal. 7.&lt;br /&gt;[10] Disarikan dari makalah berjudul “Hermeneutik dan Ushul Fiqih; Sebuah Studi Komparatif”, yang dimuat dalam situs http://isyraq.wordpress.com , dengan tidak disebutkan nama penulisnya, tertanggal 14 Januari 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Musyir Basil ‘Aun, al-Fasârah al-Falsafiyyah, Dâr el-Masyriq, Beirut, 2004, cet. I, hal. 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Disarikan dari situs http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Dalam diskursus hermeneutika, para pakar selalu menitikberatkan kajian mereka pada 3 unsur penting, yaitu; penggagas, teks dan pembaca. Dan berangkat dari kajian masing-masih atas ketiga unsur tersebutlah yang memunculkan karakteristik hermeneutika menjadi bervarian; hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis dan hermeneutika kritis. Nah, sementara Scheleirmacher sendiri termasuk tokoh yang mempelopori hermeneutika teoritis yangmenitikberatkan kajiannya pada problem pemahaman, yaitu bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. Oleh karena tujuannya memahami secara obyektif maksud penggagas, maka hermeneutika model ini dianggap juga sebagai hermeneutika romantis yang bertujuan untuk "merekonstruksi makna".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Musyir Basil ‘Aun, op. cit, hal. 66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Disarikan dari buku Musyir Basil ‘Aun, op. cit, hal. 81-86.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] M. Yunus Masrukhin, dalam makalahnya Tafsir, Takwil &amp; Hermeneutik; Konflik Pemaknaan Teks, Jurnal Nuansa edisi XVI, Februaru 2008, hal. 33.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Semiotika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Disarikan dari makalah Ali Romdhoni bertajuk “Ushul al-Fiqh dan Semiotika Post-Struktural” November 2004.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-8148598801544509321?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/8148598801544509321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=8148598801544509321' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/8148598801544509321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/8148598801544509321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/09/ushul-fikih-hermeneutik-dan-semiotik.html' title='Kajian Tematik (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5470744586898150253.post-3294989675483500814</id><published>2008-08-19T04:18:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T11:12:18.423-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kaji Tokoh Tafsir'/><title type='text'>Kaji Tokoh Tafsir (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4bdWxSJ0I/AAAAAAAAAh8/pujZVq-bEE0/s1600-h/tabatabai.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4bdWxSJ0I/AAAAAAAAAh8/pujZVq-bEE0/s200/tabatabai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5259671605957764930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allamah Thabathaba’i, Pemikir Sejati Sumber Inspirasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: M. Luthfi al-Anshori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allamah Sayyed Muhammad Husain at-Thabathaba’i lahir pada tahun 1892 di Azerbaijani, sebutan dari kota Tabriz, sebuah kawasan di sebelah barat laut Iran. Thabathaba’i dilahirkan dari lingkungan keluarga religius dan pecinta ilmu. Ia telah menempuh proses belajarnya di kota Najaf, di bawah pengajaran para guru besarnya seperti Mirza ‘Ali Qadi (dalam bidang Gnosis), Mirza Muhammad Husain Na’ini dan Syeikh Muhammad Husain Isfahani (dalam bidang fikh dan syari’ah), Sayyed Abu’l Qasim Khawansari (dalam ilmu matematik), sebagaimana ia juga belajar standar teks pada buku as-Shifa karya Ibn Sina, The Asfar milik Sadr al-Din Shirazi, dan kitab Tamhid al-Qawa’id milik ibn Turkah, dengan Sayyid Husain Badkuba’i, dan ia sendiri adalah murid dari dua guru kondang pada masa itu, Sayyid Abu’l-Hasan Jilwah dan Aqa’ ‘Ali Mudarris Zinuni.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun-tahun selanjutnya, ia lebih konsen untuk belajar dengan Henry Corbin dan Nasr. Mereka bukan hanya telah mendiskusikan teks-teks klasik dari wakyu ke-Tuhan-an dan gnosis, namun juga keseluruhan disiplin yang di sebut oleh Nasr sebagai gnosis komparatif, yang mana pada setiap satu sesi teks sakral dari agama-agama utama mengandung ajaran mistik dan pengetahuan spiritual; seperti Tao Te Ching, Upanishads (salah satu seri teks sakral Hindu), Gospel of John, yang telah didiskusikan dan di komparasikan dengan sufisme dan doktrin-doktrin pengetahuan islam secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thabathaba’i adalah seorang Filusuf, penulis yang produktif, dan guru inspirator bagi para muridnya, yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk studi islam non-politik. Banyak dari muridnya yang diantaranya menjadi penggagas ideologi di Republik Islam Iran, seperti Morteza Motahhari, Dr. Beheshti, dan Dr. Muhammad Mofatteh. Sementara yang lainnya, seperti Nasr dan Hasanzadeh Amuli masih tetap meneruskan studinya pada lingkup intelektual non-politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di Najaf, Thabathaba’i mengembangkan kontribusi utamanya dalam bidang tafsir (interpretation), filsafat, dan sejarah madzhab Shi’ah. Dalam bidang filsafat, ia mempunyai sebuah karya penting, Usul-i falsafeh va ravesh-e-realism (The Principles of Philosophy and The method of Realism), yang mana telah diterbitkan dalam 5 jilid dengan catatan penjelas dan komentar oleh Morteza Motahhari. Deal-deal penerbitan tersebut dengan disertakannya islamic outlook dunia, tidak hanya dihadapkan pada idealisme yang mengingkari realitas wujud dunia, namun juga dihadapkan pada konsep materialisme dunia, dengan mereduksi semua realitas menuju ambiguitas konsep mitos-mitos materialisme serta pemalsuannya. Poin tersebut menjadi mapan ketika sudut pandang dunia islam adalah realitas, sementara keduanya (pandangan idealistis dan materialistis) adalah tidak realistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya utama lainnya dalam bidang filsafat adalah ulasan luasnya terhadap Asfar al-Arba’ah, magnum opus karya Mulla Sadra, yang merupakan seorang pemikir muslim besar Persia terakhir pada abad pertengahan. Di samping itu dia juga menulis secara ekstensif seputar tema-tema dalam filsafat. Pendekatannya secara humanis dapat terlihat dari ketiga karyanya; the nature of man – before the world, in this world, and after this world. Filsafatnya terfokus pada pendekatan sosiologis guna menemukan solusi atas problem-problem kemanusiaan. Dua hasil karyanya yang lain adalah kitab Bidayat al-Hikmah dan Nihayat al-Hikmah, yang terhitung sebagai karya besar dalam bidang filsafat islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pernyataan serta risalahnya seputar doktrin-doktrin dan sejarah Shi’ah masih tetap tersimpan secara rapi. Satu dari beberapa risalahnya tersebut meliputi klarifikasi serta eksposisinya tentang madzhab Shi’ah dalam jawabannya atas pertanyaan yang dilemparkan oleh orientalis Perancis terkenal, Henry Cobin. Bukunya yang lain dalam tema ini adalah Shi’ah dar Islam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Sayyed Husain Nasr dalam judul Shi’ite Islam, yang dibantu oleh William Chittick sebagai sebuah proyek dari Colgate University, Hamilton, New York, Amerika. Buku tersebut disajikan sebagai ikhtiar baik untuk meluruskan miss-konsepsi populer seputar Shi’ah yang juga dapat membuka jalan untuk memperbaiki pemahaman inter-sektarian antar sekolah-sekolah islam di Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara karya Thabathaba’i yang paling terkemuka adalah al-Mizan fi Tafsiri al-Qur’an yang lebih dikenal dengan Tafsir al-Mizan, yang merupakan hasil dari kerja kerasnya yang cukup lama dalam ruang lingkup studi Qur’an. Metode, gaya, serta pendekatannya yang unik sangat berbeda dengan para mufassif besar lainnya. Tafsir al-Mizan pertama kali dicetak dalam bahasa arab sebanyak 20 jilid. Edisi pertama al-Mizan dalam bahasa arab telah dicetak di Iran dan selanjutnya dicetak pula di Bairut, Lebanon. Hingga sekarang, lebih dari tiga edisinya dalam bahasa arab telah dicetak di Iran dan Beirut dalam bentuk besar. Dalam kitab tafsir tersebut, untuk pertama kalinya dunia tafsir dikenalkan dengan metodologi tafsir baru yaitu penafsiran ayat dengan ayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allamah Thabathaba’i juga seorang penyair mahir. Dia telah menyusun sebagian besar syair-syairnya dalam bahasa Persia, namun adakalanya pula dalam bahasa arab yang indah. Di samping itu ia juga seorang penulis diberbagai rubrik artikel dan essai.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, buku-buku hasil karya tulisnya berkisar 44 judul. Tiga diantaranya adalah hasil kumpulan dari koleksi makalah-makalahnya dalam berbagai aspek keislaman dan al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 15 November 1982 Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i meninggal dunia dalam usianya yang ke-80. Demikianlah Allamah Thabathaba’i dikenal sebagai ulama yang memberikan warna kesegaran dalam dunia pengajaran keagamaan di hauzah ilmiah Iran.[]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5470744586898150253-3294989675483500814?l=sabdapena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sabdapena.blogspot.com/feeds/3294989675483500814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5470744586898150253&amp;postID=3294989675483500814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/3294989675483500814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5470744586898150253/posts/default/3294989675483500814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sabdapena.blogspot.com/2008/08/allamah-thabathabai-pemikir-sejati.html' title='Kaji Tokoh Tafsir (1)'/><author><name>Sabdapena</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04238041686970321344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/Se6gDwFZ0zI/AAAAAAAAAmg/PmUXBRT13ps/S220/berdo%27aku.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hEAZsF9IT3Q/SP4bdWxSJ0I/AAAAAAAAAh8/pujZVq-bEE0/s72-c/tabatabai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
